Siklus Pertumbuhan Anak dan Pengetahuan Keuangan Personal

Minggu lalu kami telah membahas pengetahuan dasar keuangan personal, yang bisa menjadi pondasi bagi anak-anak Anda. Anggaran merupakan hal dasar yang harus sudah dikenalkan kepada anak Anda sejak dini. Uang saku menjadi sangat penting karena kaitannya dengan anggaran dan apa yang diinginkan di masa depan (tujuan keuangan).

Menabung untuk tujuan masa depan yang diinginkan menjadi pelajaran penting bagi anak Anda. Menunda menggunakan uang untuk hal yang lebih diinginkan di masa depan. Dan beramal, memberikan pandangan kepada anak Anda bahwa tidak semua manusia memiliki (hidup berkecukupan). Dengan begitu mereka akan mudah melihat dan bersosialisasi dengan siapa saja. Prilaku keuangan anak-anak Anda sangat dipengaruhi oleh apa yang Anda biasa lakukan dan ajarkan.

Kehidupan akan selalu berputar, seperti halnya roda, kadang kita di atas di lain waktu kita berada di bawah. Perencanaan keuangan personal memerlukan waktu yang terus menerus dan berkesinambungan karena perubahan dalam kehidupan selalu terjadi. Sehingga dibutuhkan keterbukaan berkaitan dengan keadaan keuangan keluarga Anda. Kehidupan berkeluarga membutuhkan kerja sama tim yang baik. Jangan sampai karena ketidak sepakatan akan perihal keuangan menjadi batu sandungan dalam kehidupan berkeluarga antara anak dan orang tua. Apalagi bila anak Anda sudah mulai dewasa dan memiliki suara dalam pengambilan keputusan.

Dibutuhkan pengetahuan akan keuangan personal guna dapat hidup dalam kemandirian. Di saat anak Anda memasuki masa remaja atau perkuliahan maka mereka ingin sekali diberikan kebebasan dan tanggung jawab. Pengetahuan yang berkaitan dengan keuangan personal menjadi sangat penting.

Memasuki masa dewasa, di saat selesai kuliah dan mulai bekerja maka perubahan akan perihal keuangan keluarga membutuhkan pengetahuan keuangan selanjutnya. Dan terakhir, di saat memasuki masa-masa berkeluarga dan menjadi tua adalah siklus terakhir yang perlu juga Anda pentimbangkan perubahan permasalahan keuangan dalam fase ini.

Bersandar pada Diri

Memasuki masa remaja di mana anak-anak Anda mulai memasuki jenjang perkuliahan keinginan untuk diberikan kebebasan. Mereka mengatakan bahwa mereka sudah besar (dewasa) sekarang. Secara keuangan mereka masih sangat bergantung kepada Anda sebagai orang tuanya.

Di saat mereka menyelesaikan kuliahnya, secara umum, kebanyakan dari mereka masih bergantung kepada orang tuanya. Ada juga yang bekeinginan untuk dapat memulai kemandirian akan tetapi kebanyakan dari mereka mengabaikan kontrol keuangannya. Masyarakat Indonesia akan tinggal lebih lama di rumah orang tuanya dibandingkan dengan kebiasaan di luar negeri.

Sebelum mereka menikah maka secara umum mereka akan tinggal bersama orang tuanya. Memang tidak ada salahnya dalam hal ini, tetapi berdampak terhadap diri Anda sendiri sebagai orang tua dan prilaku keuangan anak Anda sendiri.

Bila mana Anda dalam usia 20-an tahun dan masih bergantung pada orang tua Anda maka perlu memiliki rasa tanggung jawab terhadap keadaaan keuangan Anda sendiri. Memang banyak hal yang menyebabkan Anda sampai terkadang memasuki usia 30-an tahun masih bergantung kepada orang tua Anda. Apapun sebabnya yang perlu Anda lakukan adalah memiliki kontrol dan rasa tanggung jawab terhadap perubahan keadaaan keuangan Anda.

Orang tua Anda harus menyiapkan keuangannya bila mereka memasuki masa-masa pensiun dan Anda sebagai anak memerlukan dukungan keuangan untuk dapat hidup dengan gaya hidup yang diinginkan serta memulai untuk menyiapkan dan merencanakan investasi untuk masa depan.

Keterbukaan dan komunikasi permasalahan keuangan antara anak dan orang tua menjadi kunci dalam hal keuangan. Kebiasaan masyarakat kita di mana sebelum anak menikah maka mereka akan tinggal di rumah orang tuanya. Apa lagi bagi yang merantau ke luar daerah, bekerja dan memulai kemandiriannya. Hal ini memberikan banyak pelajaran bagi mereka untuk dapat mengatur keuangannya. Karena tentunya mereka mempunyai keinginan yang segara harus dipenuhi tapi mereka juga ingin memiliki tujuan keuangan di masa datang.

Isu lain yang harus Anda kembangkan di usia 20-an tahun adalah kebiasaaan untuk menabung. Menabung menjadi sangat penting bukan hanya bagi mereka yang masih remaja, tetapi juga mereka yang sudah dewasa dan memasuki masa-masa tua. Kebiasaan untuk menyisihkan uang untuk masa depan, menunda konsumsi masa sekarang, menjadi sangat penting dan harus sudah dimulai di masa di mana Anda masih bergantung pada orang tua Anda.

Memang, memasuki masa bekerja di mana Anda memiliki penghasilan terbatas akan tetapi pengeluaran yang besar, tetap saja perihal menabung harus Anda kembangkan yang nantinya menjadi kebiasaan prilaku Anda terhadap uang. Memulai menabung lebih awal akan memberikan keuntungan dari segi waktu, uang yang harus dikeluarkan serta bunga berbunga.

Mungkin permasalah keuangan yang kompleks berkenaan antara orang tua dan Anda sendiri adalah di fase dewasa. Di masa ini biasanya Anda sudah memasuki jenjang berkelaurga sebagai anak. Di mana Anda sudah memiliki keluarga sendiri. Tapi terkadang Anda masih sangat bergantung dengan kedua orang tua Anda untuk permasalahan keuangan. Dan lagi permasalahan mungkin timbul karena kurangnya komunikasi dan keterbukaan dalam membicarakan permasalah keuangan.

Keterlibatan orang tua Anda dalam keluarga Anda sekarang sering kali menyebabkan permasalahan. Oleh karena itu permasalahan di fase ini sangat membutuhkan penanganan yang cermat dan tepat.

Dalam fase ini Anda sebagai anak sudah memiliki keluarga sendiri. Walau Anda sudah memiliki pekerjaan dan karier, akan sangat mudah bagi Anda untuk tetap berpaling dan bertumpu kepada orang tua Anda. Hal ini bukanlah hal yang salah. Kebiasaan orang tua Indonesia akan tetap membantu anaknya walau mereka sudah memiliki karier. Akan tetapi berpangku tangan atau bersandar kepada orang tua Anda untuk dapat memenuhi semua keinginan gaya hidup yang Anda pilih bukanlah solusi yang baik.

Bila Anda terbiasa dengan prilaku meminta bantuan kepada orang tua Anda, dengan melakukan hal ini akan menghambat kemandirian Anda dan akan mempersulit Anda dalam mengatur dan mengontrol permasalahn keuangan keluarga Anda sendiri.

Diskusi Terbuka

Selanjutnya kita masuk dalam pembahasan keuangan lain, yaitu pentingnya pembahasan terbuka berkenaan dengan hubungan anak (apalagi anak yang sudah dewasa) dan orang tua dalam hal keuangan.

Dalam banyak keluarga, keuangan atau uang merupakan subjek yang seluruh keluarga mengetahuinya akan tetapi tidak satu orang pun dalam keluarga yang secara terbuka membahasnya. Banyak orang tua yang merasa bahwa keuangan keluarganya bukan merupakan subjek yang harus diketahui oleh anak-anaknya, dan banyak yang merasa ragu-ragu dalam membicarakan dengan anak mereka berkenaan dengan masalah keuangan keluarga anaknya.

Hal ini bisa karena takut menyinggung perasaan anak Anda. Anak-anak yang telah dewasa pun merasa enggan dan canggung untuk membicarakan permasalah keuangan, baik keuangan keluarga mereka maupun orang tua mereka. Akibatnya kedua belah pihak hanya mengetahui sebagian permasalah keuangan masing-masing dan menetapkan asumsi dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan keuangan. Ketidak terbukaan dalam pembahasan keuangan dapat mengakibatkan terjadinya salah pengertian atau pemahaman yang dapat berakibat fatal di kemudian hari.

Contoh salah pengertian yang bisa terjadi dalam hal ini adalah, pembicaraan ayah terhadap anaknya: “Kita membiayai anak kita sampai menyelesaikan kuliahnya dan sekarang sudah bekerja dengan penghasilan Rp 36 juta/tahun, tapi tetap saja ia masih membutuhkan bantuan keuangan dari kita. Ke mana uang yang ia hasilkan setiap bulan?”

Atau mungkin inilah pembicaraan anak mengenai orang tuanya: “Dengan penghasilan mereka yang hampir Rp 200 juta/tahun, sedangkan pengeluaran mereka rata-rata berkisar Rp 100 juta/tahun. Tapi di saat saya membutuhkan hanya Rp 50 juta sebagai pinjaman untuk pembayaran uang muka rumah, sulit sekali mendapatkannya, mengapa?”

Illustrasi seperti di atas bisa sangat tak terbatas bentuknya. Setiap generasi memiliki cara pandang yang berbeda-beda terhadap perihal keuangan. Yang dibutuhkan adalah saling tau informasi sehingga tidak terjadi salah pengertian dalam hal keuangan. Mungkin saja orang tua Anda tidak mengetahui bagaimana sulitnya mengatur gaji yang hanya Rp 36 juta sekarang, dengan gaya hidup masa kini.

Mereka terkadang membandingkan dengan keadaan mereka dulu. Dan Anda sebagai seorang anak, terkadang juga tidak melihat kebutuhan lain dari orang tua Anda, seperti masa pensiun nanti serta biaya pengobatan yang kemungkinan besar akan meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.

Tanpa adanya cara pandang yang sama perihal keuangan masing-masing, sangat mudah mengakibatkan pengambilan kesimpulan atau keputusan yang sangat tidak relevan atau benar.
Menurut hemat kami ada beberapa hal yang dapat membantu Anda dalam berkomunikasi dengan orang tua Anda berkenaan dengan keuangan:

  • Bahas dengan orang tua Anda perihal keuangan Anda dan kedua orang tua Anda. Sebab, dengan hanya berdiam dapat mengakibatkan ketidak pastian dan salah persepsi.
  • Cobalah untuk berbagi informasi yang akan membangun kebiasaan keterbukaan dalam membicarakn masalah keuangan.
  • Tetaplah memiliki pikiran terbuka dalam membicarakan permasalah keuangan, baik itu keuangan Anda sendiri maupun keuangan orang tua Anda.

Anak, Uang dan Orang Tua

Hal penting lain yang berkaitan dengan keuangan adalah hubungan antara anak, uang dan orang tua. Sebagai orang tua Anda bisa mengajarkan kepada anak Anda berbagai pengetahuan berkaitan dengan keuangan personal (seperti yang telah kita bahas minggu lalu). Dan orang tua Anda sebagai kakek dan nenek dari anak-anak Anda juga bisa mempengaruhi prilaku sosial mereka dan memiliki pemahaman mengenai keuangan dan bagaimana uang itu mempengaruhi kehidupan mereka.

Pengaruh itu bisa positif tapi juga bisa berdampak negatif. Sehingga sangatlah penting dalam menentukan dasar keuangan yang sesuai dengan nilai-nilai yang selama ini dimiliki oleh orang tua Anda.

Perencanaan keuangan keluarga sangat berpengaruh tehadap prilaku anak-anak Anda terhadap uang. Ada orang tua yang dengan mudahnya memberikan apa yang diinginkan oleh anaknya. Tapi banyak juga yang mengharuskan anak-anak mereka memprioritaskan apa yang diinginkan dan mencoba untuk memperolehnya dengan uang mereka sendiri. Banyak orang tua yang merasa bahwa kakek-nenek anak-anak mereka memanjakan cucu-cucunya.

Di lain pihak, kakek, nenek juga merasa bahwa anak mereka terlalu ketat berkenaan dengan keuangan. Sehingga dibutuhkan saling keterbukaan dalam membahas semua permasalahan keuangan yang tentunya berdampak terhadap perkembangan anak atau cucu mereka.

Dalam kehidupan di Indonesia, bila Anda memiliki orang tua yang sudah lanjut usia dan sulit bagi mereka untuk dapat hidup mandiri dibutuhkan bantuan Anda sebagai anak.

Tidak lazim dalam kebiasaan ketimuran membiarkan orang tua Anda hidup di panti jompo atau sendiri. Biasanya ada anak yang akan menampung orang tuanya untuk hidup bersama dalam satu rumah. Hal ini harus Anda bicarakan jangan sampai dalam perjalanannya nanti malah menjadi bumerang yang akan menyerang Anda sendiri.

Kebutuhan akan biaya pengobatan juga akan semakin meningkat di kala usia sudah mulai senja, sehingga dibutuhkan perencanaan berkenaan dengan medicare atau asuransi kesehatan yang sebaiknya Anda miliki. Semakin hari, biaya pengobatan semakin meningkat. Dengan asuransi kesehatan Anda memiliki anggaran yang dibutuhkan untuk segala sesuatu yang tidak diinginkan.

Dengan melihat berbagai kemungkinan dalam siklus kehidupan maka dibutuhkan sebuah perencanaan keuangan yang tepat dan tentunya dibutuhkan saling keterbukaan antara Anda sebagai anak maupun sebagai seoarang kakek atau nenek. Independensi menjadi sangat dibutuhkan di saat anak Anda mulai bekerja.

Memang sebagai orang tua akan sangat sulit untuk tidak menolong anaknya bila dalam kesulitan keuangan, yang terpenting adalah tanamkan kepada anak Anda rasa tanggung jawab.

Keterbukaan akan permasalahan keuangan Anda dan orang tua Anda juga menjadi sangat penting. Satu hal lain adalah hubungan antara, orang tua, anak dan cucu-cucu mereka.

Demikianlah, semoga hal ini cukup memberikan wacana bagi pembaca dalam hal keuangan keluarga. (*)

Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.

Leave a Reply