Risiko Sebenarnya bagi Keuangan Keluarga: Kehilangan Pendapatan

Risiko biasa dibicarakan sebagai sebuah penyimpangan keuntungan dalam sebuah portofolio. Namun, ada risiko yang sebenarnya bisa merusak keuangan (kekayaan) Anda lebih dari penurunan harga saham. Hidup di luar kemampuan dan tidak menjaga pendapatan Anda, harus dibayar lebih mahal daripada bila Anda melakukan alokasi aset yang kurang sesuai.

Ada sepasang suami istri, sebut saja keluarga Badru. Saat ini Pak Badru memiliki dua orang anak yang sehat dan pintar. Istri Pak Badru sering kali mengeluhkan tentang masalah keuangannya, khususnya deficit bulanan yang sering kali terjadi. Bagaimana mungkin mereka dapat menabung bila pendapatan pun tidak tersisi setiap akhir bulan. Dengan dua orang anak, memang sulit untuk dapat memenuhi semua kebutuhan apalagi menabung. Saat ini penghasilan Badru bisa dibilang cukup besar dengan pendapatan Rp.120 juta setiap tahun. Ditambah lagi, rumah yang mereka tempati saat ini sudah lunas atau mungkin hanya tinggal sedikit saldo utang yang masih tersisa.

Namun di sisi lain, ternyata Badru merupakan seorang yang royal dan mudah sekali membeli sesuatu dengan kartu kredit. Tanpa terasa, tagihan kartu yang tadinya sedikit membengkak menjadi sangat besar karena kebiasaan membayar tagihan minimum setiap bulan. Walau mereka memiliki utang yang cukup besar mereka tetap bisa berlibur ke Bali bersama keluarga. Mengapa? Karena pendapatan Badru masih dapat menutupi semua kebutuhan pembayaran tagihan kartu kredit. Namun, bagaimana dampaknya dalam jangka panjang? Bila mereka tetap menjalankan kebiasaan ini, sangat mungkin keuangan keluarga yang tadinya aman tentram bisa porak poranda.

Keuangan Keluarga

Bila Anda pernah membaca textbook ekonomi atau keuangan, mungkin Anda akan mendapati banyak pembahasan mengenai risiko; seperti risiko nilai tukar, risiko kredit, risiko sistematik dan masih banyak lagi. Kebanyakan dari risiko ini berkaitan dengan investasi yang menyatakan volatilitas dari hasil investasi atau penurunan nilai investasi sebelum Anda sempat menjualnya.

Namun demikian, ada risiko yang berdampak lebih kejam terhadap kehidupan keuangan Anda dan keluarga dibanding dengan kerugian investasi sebesar 25 persen. Dari contoh cerita singkat di atas, keluarga Badru adalah orang yang baik dan ramah. Mereka tetap konsisten untuk menyisihkan 10 persen dari pendapatan mereka untuk masa pensiun nanti. Namun, dengan tingkat utang yang semakin tinggi, akan sangat mungkin hal ini berdampak signifikan terhadap keuangan mereka di masa datang. Apalgi bila risiko yang satu ini menimpa mereka.

Kehilangan Pendapatan

Seperti ulasan di atas, kebanyak pembahasan risiko selalu berkaitan dengan investasi. Akan tetapi, sebelum Anda memulai investasi, tentunya Anda harus memiliki pendapatan dulu. Dan dari pendapatan ini yang Anda alokasikan untuk investasi. Betul tidak? Namun, jarang sekali Anda mendengar tentang risiko kehilangan pendapatan ini. Dalam kondisi seperti saat ini, sangat mungkin terjadi di mana pendapatan regular yang Anda terima setiap bulan ternyata terputus akibat PHK.

Inilah sebenarnya yang harus lebih diutamakan Badru, risiko kehilangan pendapatan. Mereka sering mengeluhkan tentang kurangnya pendapatan bulanan untuk memenuhi kebutuhan, namun mereka tetap bisa berlibur ke Bali sekeluarga. Tentunya saat ini, Badru masih dapat memenuhi semua kebutuhan pembayar cicilan bulanan.

Bagaimana bila pendapatan yang setiap bulan diperoleh ternyata tidak ada lagi? Bagaimana mereka dapat memenuhi semua kebutuhan keluarga?

Kehilangan pendapatan regular bisa mengakibatkan perubahan keadaan keuangan yang tadinya aman dan tentram berubah menjadi berantakan. Risiko kehidupan seperti kematian dan PHK dapat berdampak buruk terhadap keuangan keluarga bila Anda tidak menjaga dan merencanakannya dengan bijak.

Oleh sebab itu, kami sangat menganjurkan agar Anda mempersiapkan atau merencanakan dua hal penting yang dibutuhkan dalam proteksi keuangan keluarga.

1. Emergency fund, sering kali dilupakan. Dana ini dapat dimanfaatkan bila terjadi keadaan darurat. Namun kebutuhan dana ini hanya untuk jangka waktu yang pendek, seperti pemutusan hubungan kerja. Dengan terjadinya risiko ini, maka pemasukan regular keluarga terputus. Dana tunai yang tersedia di dalam emergency fund ini dapat dipakai sebagai kebutuhan ini. Sekali lagi ingat, dana ini hanya untuk jangka pendek. Harapannya adalah Anda mendapatkan pekerjaan kembali. Dana ini juga bia digunakan untuk hal lain seperti adanya kesempatan investasi yang menurut Anda menguntungkan dan memberikan ekspektasi keuntungan yang besar. Karena kesempatan langka tidak datang dua kali. Dengan adanya dana ini, mengurangi keharusan untuk menjual aset dengan potongan besar guna menutupi risiko tersebut. Para profesional keuangan keluarga selalu menganjurkan untuk menyediakan dana sebesar paling tidak 6 kali biaya hidup bulanan. Bahwa dana ini harus tunai tidak berarti harus ditempatkan di tabungan. Yang terpenting adalah dana ini dapat mudah dicairkan dan tidak mengurangi nilainya. Contoh alternatif investasi yang likuid adalah reksa dana pasar uang atau deposito.

2. Asuransi jiwa seharusnya menjadi salah satu faktor dalam perencanaan keuangan keluarga. Memenuhi kebutuhan asuransi jiwa akan menjaga keluarga Anda dari petaka keuangan bila terjadi risiko kematian pada tulang punggung keuangan keluarga (sumber pendapatan terbesar). Nilai tunai yang diberikan perusahaan asuransi saat terjadi risiko bisa dipergunakan keluarga untuk berbagai hal, dari kebutuhan akan biaya rumah sakit dan biaya penguburan dan tentunya nilai tunai yang diperoleh juga membantu keluarga Anda untuk dapat mempertahankan gaya hidup, membayar utang yang masih ada atau menyediakan biaya pendidikan untuk anak-anak. Dengan semua ini, sebaiknya dilakukan agar risiko keuangan keluarga dapat diminimalisasi kerugiannya, walau tidak dapat mengganti rasa sedih akan kehilangan orang tercinta.

Berkaitan dengan kebutuhan dana darurat yang dialokasikan dalam investasi yang likuid. Kebutuhan akan dana darurat mengharuskan Anda menempatkan pada instrumen jangka pendek yang mudah dicairkan. Kemudian timbul pertanyaan: adakah alokasi lain untuk kebutuhan jangka pendek dalam keuangan keluarga yang menyeluruh?

Tentu saja ada. Untuk menjelaskan hal ini maka kami coba mengajukan sebuah pembagian yang dapat dianalogikan dengan kue tart tiga tingkat atau lapisan.

Tiga Lapis Investasi

Lapisan yang paling bawah adalah investasi untuk tujuan jangka panjang. Hal ini dilakukan untuk berbagai tujuan keuangan jangka panjang yang dimiliki keluarga, di mana mencakup jangka waktu lebih dari 7 tahun, seperti biaya pendidikan anak dan persiapan masa pensiun. Idealnya, investasi lapis ini menjadi bagian terbesar dari total investasi yang Anda lakukan dalam jangka panjang. Biasanya dengan perspektif jangka panjang, sarana investasi saham atau reksa dana saham bisa menjadi alternatif.

Investasi jangka panjang berada pada lapisan yang terbawah, yang membuatnya menjadi alternatif terakhir bila ingin dicairkan.

Investasi jangka menengah masuk dalam lapis kedua. Ini merupakan dana yang Anda tempatkan untuk berbagai tujuan keuangan kurang dari 7 tahun. Banyak kebutuhan yang dialokasikan dalam lapis ini seperti untuk tujuan persiapan uang muka pembelian rumah, pembelian mobil baru, berlibur dan masih banyak lagi. Biasanya untuk kebutuhan jangka menengah sarana investasi reksa dana pendapatan tetap bisa menjadi alternatif. Akses dana ini lebih mudah dibandingkan dengan investasi lapis pertama.

Bagian teratas dari investasi Anda adalah persiapan untuk dana darurat atau rainy-day fund. Investasi ini dibutuhkan saat keadaan darurat seperti PHK, kekurangan cash flow bulanan, biaya rumah sakit, perbaikan mobil dan lain-lain. Yang terpenting dalam investasi ini adalah dapat dengan mudah dicairkan dan tidak mengurangi nilainya. Contoh alternatif investasi yang likuid adalah reksa dana pasar uang atau deposito.

Mungkin saja sekarang timbul pertanyaan: berapa nilai yang wajar untuk masing-masing lapis investasi yang dimiliki keluarga? Dalam hal ini, setiap keluarga memiliki tujuan serta keterbatasan masing-masing. Masing-masing keluarga memiliki keunikan yang berbeda. Untuk itu kami memberikan beberapa guidelines yang dapat membantu Anda menetapkan atau mengalokasikan nilai wajar pada masing-masing lapis investasi.

Alokasi masing-masing lapis investasi sangat dipengaruhi oleh:

  1. Kebutuhan dan tujuan Anda. Untuk alokasi dana darurat, seharusnya Anda mengalokasikan di antara 3-6 bulan biaya hidup. Hal ini sudah tidak bisa ditawar lagi. Namun untuk tujuan menengah dan panjang, sebaiknya Anda mnentukan apa yang Anda inginkan di masa datang. Misalkan untuk menyiapkan uang muka sebesar Rp.120 juta untuk pembelian rumah, harus dicapai setelah 2 tahun. Dengan begitu alokasikan dana dalam instrumen jangka menengah untuk hal ini. Kemudian untuk tujuan yang lebih panjang, seperti masa pensiun yang masih 20 tahun lagi, kebutuhan dana yang diproyeksikan adalah sebesar Rp.1 miliar. Dengan begitu Anda dapat mengalokasikan dalam bentuk saham atau reksa dana saham. Dengan alokasi ini Anda dapat membuat sebuah portfolio keluarga (pembahasan minggu lalu) yang menyatu dengan berbagai tujuan yang dimiliki.
  2. Tingkat toleransi Anda terhadap risiko. Beberapa orang merasa bahwa investasi di reksa dana saham tidak membuatnya susah tidur. Namun buat sebagian lain, mendengarnya saja sudah sangat antipati. Oleh karena itu, memahai dan mengenali toleransi Anda terhadap risiko menjadi sangat penting dalam penempatan alokasi dana pada lapisan-lapisan investasi.
  3. Untuk hal ini Anda dapat mencoba beberapa quiz yang banyak dituliskan di berbagai textbook keuangan untuk lebih mengenal dan memahami tingkat toleransi Anda.

Jadi dapat dipelajari di sini bahwa risiko utama dalam keuangan keluarga adalah putusnya pendapatan regular keuangan untuk menopang semua kebutuhan akan lebih berbahaya dari pada kerugian investasi itu sendiri. Karena semua investasi berawal dari pendapatan yang disisihkan untuk tujuan mendatang.

Penempatan investasi keluarga menjadi sangat penting. Lapis pertama merupakan investasi tujuan jangka panjang. Investasi jangka menengah selanjutnya. Dan investasi untuk dana darurat merupakan lapis teratas dalam kue keuangan keluarga Anda. sesuaikan alokasi dengan tingkat toleransi Anda terhadap risiko dan tempatkan sesuai dengan tujuan keuangan yang dimiliki. Sampai jumpa dalam pembahasan lain.

Semoga bermanfaat.n

Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.

Leave a Reply