RDI, Alternatif Investasi Unggul

Bagi banyak investor, menganalisis arah indeks jauh lebih mudah daripada menganalisis arah pergerakan saham satu-persatu. Masalahnya, untuk mengekspresikan pandangan mereka dengan membeli seluruh saham di bursa adalah tidak praktis dan mahal. Untuk mengatasi masalah ini, investor bisa mencoba reksadana indeks.

Reksa Dana Indeks memudahkan investor untuk mengakses pasar modal dengan biaya relatif rendah serta risiko yang terdiversifikasi.

Pada dasarnya, reksadana indeks (RDI) adalah reksadana yang dikelola secara pasif, dengan tujuan utama menghasilkan kinerja yang mengikuti kinerja indeks tertentu (misalnya S&P 500, Dow Jones 30, Indeks Harga Saham Gabungan/IHSG atau Jakarta Islamic Indeks/JII) dengan biaya minimal.

Nama-nama saham maupun bobot masing-masing saham di RDI akan mirip dengan indeks. Jadi, misalnya saham A memiliki bobot 10% di indeks, maka di RDI saham A juga cenderung akan memiliki bobot 10%. Selain biaya rendah, RDI relatif lebih transparan karena komposisi portofolionya jelas, mirip dengan indeks, dan hanya berubah sedikit, terutama jika ada perubahan komposisi indeks yang di ikuti.

Sama seperti reksadana lainnya, risiko RDI juga terdiversifikasi. Bahkan bagi RDI tertentu, diversifikasi risiko lebih luas karena jumlah saham atau obligasi di portofolio RDI lebih banyak dari reksadana lainnya yang biasanya hanya terdiri dari 10 sampai 20 nama saja.

Manfaat utama dari RDI adalah dari segi biaya yang relatif lebih murah dibandingkan reksadana aktif. Karena dikelola secara pasif, RDI bisa menghemat biaya-biaya pengelolaan jika dibandingkan, misalnya, pengelolaan reksadana secara aktif. Akibatnya rasio biaya terhadap total aset (expense ratio) RDI bisa jauh lebih kecil dibandingkan reksadana aktif.

Sebagai gambaran, di Amerika Serikat (AS), rata-rata expense ratio RDI berkisar sekitar 0.6%, jauh lebih kecil dibandingkan reksadana aktif yang rata-ratanya 2%.

Komponen biaya RDI terdiri dari biaya administrasi (selling fee, subscription fee, custody fee) dan biaya transaksi. Perbedaan utama biaya RDI dibandingkan reksadana aktif adalah di biaya transaksi. Biaya transaksi adalah biaya yang ditanggung reksadana untuk pembelian dan penjualan saham atau instrumen lainnya.

Selain komisi broker, ada juga biaya perbedaan (spread) beli-jual (bid-ask) yang harus ditanggung. Dan, jika dananya besar, terjadi juga apa yang namanya biaya dampak pasar (market impact). Biaya ini terjadi karena misalnya RDI ingin membeli saham X dalam jumlah yang besar. Karena jumlahnya besar, saham X yang tadinya diperkirakan bisa dibeli di harga Rp. 1.000,- ternyata bergerak naik karena adanya pembelian besar tersebut. Akibatnya, saham A tersebut terbeli di harga rata-rata Rp. 1.100,- . Dalam hal ini, Rp.100,- merupakan biaya market impact.

Karena dikelola secara pasif, perputaran atau turn over (beli-jual saham) portofolio RDI relatif lebih jarang dibandingkan reksadana aktif, akibatnya, biaya transaksi RDI jadinya relatif lebih kecil.

Menurut hasil penelitian pakar-pakar keuangan di AS, pertumbuhan dana investor hasil investasi di pasar modal ternyata lebih banyak, sekitar 80%-90% ditentukan oleh pemilihan tipe aset mana yang dipilih oleh investor. Sisanya (10%-20%) baru ditentukan oleh saham mana yang mereka pilih. Oleh karena itu, para investor disarankan untuk memfokuskan diri pada alokasi (pemilihan) aset dalam proses keputusan investasi mereka, bukan pemilihan saham per saham (stock picking). Tipe aset yang dipilih bisa antar kelas aset seperti saham, obligasi, atau pasar uang (money market) atau bisa juga dalam kelas yang sama dengan kategori yang berbeda, misalnya saham perusahaan besar (Big Cap), saham perusahaan kecil (Small Cap), saham bertumbuh (Growth), saham bernilai menarik(Value), sektor keuangan (Financial Sector), sektor teknologi (Technology Sector) dan sebagainya.

Hasil penelitian tersebut setidaknya meringankan beban bagi investor dalam membuat keputusan investasi. Kalau dulu mereka harus memilih saham-saham mana yang layak untuk dibeli, yang jumlah pilihannya bisa ratusan sampai ribuan nama saham, kini pilihannya hanya dalam hitungan satuan sampai puluhan tipe aset (saham, obligasi atau pasar uang) atau kategori aset (growth, value, big cap, small cap) saja. Tapi, masalah lain timbul. Untuk membeli seluruh saham di sektor tertentu, tentunya tidak praktis dan membutuhkan biaya yang besar. Disinilah reksadana indeks bisa memainkan peran yang baik karena reksadana indeks memberikan kemudahan bagi investor untuk mengakses sektor yang diminatinya.

Di AS , industri reksadana merespon kebutuhan investor diatas dengan menawarkan produk-produk berbasis indeks, baik itu indeks berbasis pasar luas (broad market index), indeks berbasis sektoral (teknologi, finansial) maupun berbasis gaya (style) atau kategori (growth, value). Akibatnya, industri reksadana indeks yang dirintis oleh John Bogle di tahun 1975, tumbuh dengan pesat hingga sekarang mencapai nilai US$ 2.2 trilyun (saham), US$ 900 milyar (bonds) dan US$1.1 trilyun (saham dan obligasi internasional). Pangsa pasar reksadana indeks yang di tahun 1970an masih dibawah 5% kini sudah diatas 30% dan terus meningkat.

Tren yang sama juga terjadi di negara-negara besar lainnya. Tren ini mengindikasikan adanya pergerakan tingkah laku investor dunia dari yang biasanya mengandalkan pemilihan saham (stock picking) sebagai alat keputusan utama, ke arah investasi pasif dengan menggunakan, antara lain, instrumen reksadana indeks (indexing) untuk mencapai tujuan investasi mereka.

Prospek di Indonesia

Di Indonesia, sejarah RDI masih berada di tahap awal, mirip AS di tahun 1975. Sampai saat ini, baru dua reksadana berbasis indeks yang ditawarkan ke publik yaitu reksadana indeks obligasi Bahana Asian Bond Fund dan reksadana indeks saham Danareksa Dinar.

Danareksa Dinar adalah RDI saham dengan tujuan utama mengikuti pergerakan indeks JII. Dalam pembentukan (construction) atau penyesuaian (rebalancing) portofolionya, Dinar menggunakan gabungan antara metode replikasi penuh (full replication) dengan pengelompokan sampel (stratified sampling).

Replikasi penuh adalah metode dimana reksadana akan membeli seluruh saham yang ada di indeks dengan bobot persis sama dengan indeks. Tapi karena metode ini kurang praktis dan perlu biaya transaksi yang relatif lebih besar, maka kami anggap perlu dikombinasikan dengan metode pengelompokan sampel.

Dengan metode ini, jumlah saham yang dibeli bisa jauh lebih sedikit. Dengan penggabungan metode ini, Dinar hanya memerlukan pembelian saham sekitar 80% sehingga lebih efisien dari segi eksekusi dan biaya transaksi.

Tentunya, dengan hanya 80% replikasi, bobot masing-masing saham di Dinar tidak 100% sama dengan indeks. Akibatnya bisa terjadi sedikit perbedaan kinerja atau yang dalam bahasa teknisnya disebut tracking error. Ini sudah diantisipasi.

Penggabungan dua metode tersebut juga dilengkapi dengan program optimisasi yang dibuat sedemikian rupa sehingga tracking error menjadi sangat minimal. Selain itu, dari 80% nama yang dibeli, total bobotnya di indeks pun sudah mencapai 98%.

Sebagai tambahan, tracking error ini adalah suatu yang umum bagi semua reksa dana indeks sebagai konsekuensi timbal balik (trade-off) antara biaya transaksi yang ingin dihemat dengan perbedaan kinerja yang dapat ditoleransi. Juga biasa dijadikan indikator untuk mengetahui seberapa baik manajer investasi mengikuti pergerakan indeks.

Bagi sebagian investor, produk yang hanya menawarkan kinerja seperti kinerja pasar (indeks) mungkin kurang menarik. Tapi, kalau kita ambil contoh kinerja indeks JII selama 5 tahun terakhir, pandangan ini mungkin bisa sedikit berubah. Dalam 5 tahun terakhir JII menghasilkan kinerja 39 persen per tahun, suatu kinerja yang sangat baik bahkan setara dengan kinerja reksadana saham (aktif) terbaik di Indonesia dalam periode yang sama.

Apakah reksadana berbasis indeks akan ber-evolusi dengan baik seperti apa yang terjadi di AS, tentunya masih terlampau pagi untuk dapat kita pastikan. Akan tetapi, melihat faktor teori ekonomi keuangan yang kuat yang mendasari diciptakannya produk ini, ditambah dengan biaya pembelian yang rendah, serta adanya unsur kemudahan untuk mengakses pasar modal, dan prospek kinerja yang cukup potensial (diatas rata-rata, bahkan mungkin bisa terbaik), bukan tidak mungkin sukses di AS bisa terjadi di sini.

John D. Item
Sumber Danareksa.com

Leave a Reply