Presiden: Turunkan Suku Bunga Perbankan

SEMARANG, KOMPAS - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah berbicara dengan Gubernur Bank Indonesia untuk memberi akses pendanaan yang lebih mudah bagi dunia usaha dan menurunkan suku bunga. Presiden juga minta agar inflasi tahun 2007 tidak lebih dari 6,6 persen.

“Saya sudah bicara dengan Gubernur Bank Indonesia. Turunkan suku bunga, inflasi tidak naik lebih dari 6,6 persen. Syukur-syukur susut. Dengan ini, harapan kita, dunia usaha bisa bergerak,” ujar Presiden dalam sambutan Rapat Kerja Nasional ke-13 Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Semarang, Jawa Tnegah, Selasa (20/2).

Presiden menyadari, tingginya suku bunga dan tingginya inflasi menjadi hambatan utama bagi tumbuh baiknya iklim usaha dan investasi di Indonesia. Hambatan utama itu merupakan satu dari sembilan hambatan yang dipaparkan satu per satu.

Delapan dari sembilan hambatan lain adalah, pertama, pajak yang tidak bersahabat dengan dunia usaha. Untuk itu, Presiden telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah tentang Insentif Perpajakan yang mempertimbangkan prinsip keadilan.

Kedua, berbelitnya perijinan usaha yang harus terus dikurangi lama waktunya. Dari 151 hari telah menjadi 97 hari. “Harus makin susut. Saya minta Pak Lutfi (Kepala BKPM) bisa membuat susut di bawah 50 hari di seluruh Indonesia,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta rakernas.

Ketiga, aspek kepastian hukum dengan asas keadilan dan logis. Keempat keamanan dan ketertiban. Kelima, stabilitas politik dalam kebebasan. Keenam, pembangunan infrastruktur. Ketujuh, tenaga kerja yang produktif dan dilindungi. Kedelapan, penataan peraturan daerah yang bertentangan dengan aturan di atasnya.

Turut hadir dalam rakernas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Boediono, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri MS Hidayat, dan pengusaha alumi HIPMI seperti Abdul Latief dan Fahmi Idris.

Dengan diatasinya sembilan hambatan, Presiden berharap tiga tujuan tahun 2007 dan dua tahun kepemimpinannya dapat terwujud. Tiga tujuan itu adalah mengurangi pengangguran dan kemiskinan (prorakyat), menumbuhkan investasi dan dunia usaha, dan membangun kemandirian bangsa.

Sebelumnya, dalam pengantarnya, Ketua Umum HIPMI Sandiaga S Uno mengakui, iklim usaha dalam tiga tahun terakhir membaik. Namun, sejumlah pengusaha tetap menghadapi kebuntuan karena akses pasar, lemahnya sumber daya manusia, dan kurangnya modal.

“Membaiknya makro ekonomi belum menggerakkan sektor riil. Kami para pengusaha tidak membutuhkan proteksi di era persaingan seperti saat ini. Yang kami butuhkan keberpihakan,” ujarnya.

Untuk keberpihakan dan upaya menggerakkan sektor riil itu, Sandiaga minta semua pihak mengesampingkan wacana ideal dan mulai bekerja dengan aksi-aksi nyata. “Mari kesampingkan wacana ideal dengan memulai aksi nyata,” ujarnya.

Tahun 2010, HIPMI bertekad mencetak sejuta pengusaha baru dan melahirkan Bakrie, Astra, Latif, dan Medco baru. Kepada anggota HIPMI, Presiden berharap kelak mereka tidak hanya menjadi pengusaha terkenal tetapi juga menjadi pemimpin bangsa yang dihormati.

Laporan Wartawan Kompas Wisnu Nugroho A. Sumber Kompas Cyber Media.

Leave a Reply