Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof Dr Roy Sembel:Dari Unta Ragunan ke Raja Sulaiman

Jakarta – Siapa tidak kenal dengan Roy Sembel? Sabtu (23/7) lalu, dia resmi menyandang gelar Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia, sehingga namanya menjadi Prof. Dr. Hendra Michael Roy Sembel.

Saat pengukuhan, tampak hadir dalam acara sabtu pagi itu; Prof Irsan Tanjung, calon Duta Besar Indonesia di Filipina, Leony Radius Prawiro yang ikut mensponsori ketika Roy menyelesaikan S3 di Pitsburgh Amerika Serikat, Anugerah Pekerti, Tokoh Manajemen dan Penasehat Tim Olimpiade Fisika, serta rekan-rekan dosen dari berbagai perguruan tinggi tempat Roy Sembel mengajar selama ini seperti dari Institute Pertanian Bogor, Universitas Indonesia, Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Universitas Bina Nusantara, dan para Dosen UKI.

Roy Sembel telah malang melintang dalam dunia pendidikan di Indonesia. Alumnus Fakultas Statistik Institut Pertanian Bogor ini memang jenius dan selalu juara sejak SD sampai S3. Dia aktif memberi kuliah umum pada 28 universitas yang tersebar di enam negara (Jepang, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan, Filipina, dan Thailand) sebagai The 18th ACUCA Lecturer tahun 2000. Dia menulis lebih dari 500 artikel di berbagai media. Dia juga menulis, menerjemahkan, berkontribusi dalam lebih dari 20 buku.

Roy Sembel adalah juga pembicara pada ratusan seminar dan lokakarya dalam bidang manajemen, ekonomi, keuangan, dan investasi. Ia dosen favorit di FE UKI, MM UBiNus, MAKSI UI, S2/S3 FE UI, PPAk UI, CFA review UBiNus, dll. Di usianya yang baru 41 tahun (lahir 10 Juli 1964), dia telah membimbing sampai lulus sembilan doktor, puluhan master, dan sarjana.
Namun, kalau ada yang berharap pidato pengukuhan guru besarnya di depan Senat Guru Besar UKI akan banyak rumus-rumusan ilmiah, itu tak terjadi. Roy banyak berbicara hikmat atau W.I.S.D.O.M ketika menyampaikan pidato bertajuk ”Solusi W.I.S.D.O.M. untuk Meningkatkan Kecerdasan Finansial”.

Misalnya, dia memulai pidatonya dengan kisah anak unta yang bertanya kepada induknya kenapa kakinya berbentuk aneh, punya punuk di punggung, bulu mata lentik dll, yang dengan bijak dijawab induknya bahwa itu adalah demi menghadapi situasi di padang pasir yang berat. Namun ketika ditanya, lalu kenapa mereka berada di Kebun Binatang Ragunan, sang induk tak bisa menjawab.

Dari fabel ini, dia ingin berkata bahwa nasib unta tergantung faktor di luar unta. Namun nasib manusia harus berbeda, karena Tuhan telah memberikan otoritas untuk memilih dan bertindak sesuai dengan karunia dan talenta yang dianugerahkan Tuhan kepada kita.

”Bersama Tuhan, kita adalah co-creator dari masa depan kita. Jadi, seharusnya nasib kita akan tergantung oleh usaha dan karya kita,” kata Roy.

Kalau bangsa ini, banyak yang makin terjepit oleh krisis tak berkesudahan, Roy melihat hal itu antara lain karena kecerdasan finansial masyarakat belum memadai. Apa maksudnya?

Kecerdasan finansial adalah kecerdasan untuk menciptakan kemakmuran yang berkelanjutan dan kecerdasan untuk dapat menikmati kemakmuran tersebut dalam jangka pendek, menengah, mau pun panjang.

Jadi, orang yang cerdas finansial akan dapat menikmati perjalanan mencapai tujuan-tujuan finansial, dan menikmati kepuasan saat tujuan-tujuan tersebut tercapai. Menurut dia kecerdasan finansial lebih banyak ditentukan oleh kebiasaan (motivasi dan perilaku) seseorang dibandingkan pengetahuan yang dimilikinya.

Dia menunjuk orang paling sukses menerapkan wisdom adalah Raja Sulaiman, yang ditaksir punya kekayaan mencapai US$ 1 triliun, lebih dari 20 kali lipat kekayaan Bill Gates!
”Raja Sulaiman pernah mendapat tawaran dari Tuhan untuk meminta apa saja yang diinginkan. Sebenarnya, dia bisa saja meminta kekayaan dan kejayaan, namun dia meminta hikmat (wisdom), sehingga sebagai buah dari hikmat, Sulaiman mendapatkan juga kekayaan dan kejayaan,” katanya.

Solusi W.I.S.D.O.M

Menurut Roy, mengutip berbagai penelitian, kebanyakan manusia, termasuk di Indonesia, hanya menggunakan 7-10 persen dari kapasitas otaknya. ”Kalau saja mereka bisa memanfaatkan 20 persen saja dari kapasitas otaknya, secara garis besar dapat dikatakan kinerja mereka bisa meningkat sekitar dua kali lipat. Dengan begitu, krisis akan teratasi,” katanya. Untuk itu, dia mengajukan konsep W.I.S.D.O.M.

”W” dari watak. Artinya: kenali dan kuasai potensi diri dan lingkungan. I, dari ingin. Artinya: Tetapkan tujuan ”S”, dari siasat atau strategi. Artinya: Rancang strategi berdasarkan W dan I. ”D”, dari didik. Artinya: jadilah manusia pembelajar untuk meningkatkan diri sehingga bisa menjalankan strategi dengan baik.

”O”, dari otak/otot. Artinya: kerja cerdas dan kerja keras untuk mencapai tujuan. ”M”, dari manajemen, artinya: ukur (measure) pencapaian, pantau hasil, dan kelola sumberdaya atau potensi yang dimiliki secara optimal.

Bagaimana hal itu diwujudkan, mungkin laporan ini tidak dapat memuat semua pemikirannya, namun ada baiknya kita membaca berbagai buku yang pernah ditulisnya, maupun dua rubrik yang diasuhnya di Sinar Harapan, yakni ManDiri (manajemen diri/self management) setiap hari Selasa dan Manajemen Keuangan setiap hari Kamis.

Pada akhirnya, dia menganjurkan agar kerangka pikir W.I.S.D.O.M bisa digunakan dengan menambahkan: ”… Selamat datang di universitas kehidupan … pertahankan mimpi, gairah, dan keyakinan anda, jangan lupa gunakan wisdom.”

Oleh
Kristanto Hartadi/Nico Sompotan
Dikutip dari Harian Umum Sore Sinar Harapan edisi 25 Juli 2005.

Leave a Reply