Persepsi Keuangan Keluarga: Uang Saya, Anda, atau Uang Kita?

Pernikahan adalah sebuah awal dari perjalanan panjang kehidupan berkeluarga. Selama masa dewasa sebelum memasuki mahligai perkawinan, Anda mengatur serta menganggarkan uang yang dihasilkan setiap bulan dengan cara Anda. Memasuki jenjang pernikahan, semua pasti berubah di mana Anda harus berbagi segala sesuatunya dengan pasangan Anda.

Berbagi dalam sebuah pernikahan merupakan ide yang banyak kita dengar. Dari kebutuhan untuk bermain golf sampai perawatan tubuh, semua kebutuhan yang diperlukan Anda berdua haruslah dipenuhi dari suatu pendanaan yang secara tiba-tiba muncul dan disebut “uang bersama”.

Menggabungkan dua keuangan berarti berkompromi. Maksudnya adalah mengedepankan keinginan dan kebutuhan orang lain dibanding dengan keinginan sendiri. Hal ini sangat membutuhkan negosiasi serta pemikiran yang matang. Tidak akan pernah ada individu yang mirip satu dengan yang lain dalam melihat dan memandang permasalahan keuangan.

Setiap individu memiliki latar belakang serta cara pandang mengenai uang yang berbeda.mencoba untuk saling mengerti dan mengisi kehidupan berkeluarga akan banyak membantu Anda dalam hal keuangan. Utamakan orang terlebih dahulu baru uang.

Ilustrasi Permasalahan

Kami sudah menikah kurang lebih 5 tahun yang lalu dan menurut saya, kami tidak pernah secara langsung berbicara atau berdialog mengenai uang. Awalnya semua hal yang berkaitan dengan keuangan sangatlah mudah. Masing-masing bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari yang berbeda-beda. Misalkan saja, dari pemasukan saya setiap bulan, saya harus menganggarkan untuk keperluan sehari-hari dari makan, telp., dry clean dan lain-lain. Sedangkan Andi, suami saya dalam hal ini membayar cicilan rumah kami setiap bulan, asuransi dan beberapa hal lain.

Di awal perjalanan kehidupan berkeluarga ini, saya merasa bahwa tidak pernah ada masalah atau kesulitan berkenaan dengan keuangan. Pada saat itu Andi, suami saya, berpenghasilan lebih besar dari saya.

Tapi dengan berjalannya waktu, pengeluaran-pengeluaran sehari-hari dari makan sampai mengurus rumah selalu saja bertambah. Semakin hari harga-harga kebutuhan pokok semakin mahal. Semakin lama keperluan untuk mengurus rumah menjadi sangatlah besar. Oleh karena itu saya mengharapkan agar Andi mengalokasikan sebagian penghasilannya untuk pengeluaran ini.

Masing-masing dari kami memiliki tabungan yang berbeda. Dan kami tidak memiliki tabungan bersama. Beberapa waktu lalu, timbul permasalahan dengan keuangan kami.

Permasalah pertama adalah dengan investasi yang kami lakukan bersama (Reksadana). Dalam hal ini saya selalu berusaha untuk menyisihkan setiap bulan dari penghasilan yang saya dapat. Walau memang besarnya tidaklah seberapa dibandingkan dengan investasi setiap bulan yang dilakukan oleh suami saya.

Selama kurang lebih 5 tahun uang kami berkembang dan saya merasa bahagia bahwa investasi kita bersama cukup berhasil. Tapi apa yang dikatakan suami saya Andi, sebagian besar dari investasi yang ada sekarang adalah miliknya. Sekali lagi miliknya. Bukan milik bersama.

Masalah kedua yang timbul adalah di saat kita berkeinginan untuk memiliki momongan. Di samping permasalahan keuangan, hal lain sangatlah baik di mana kita berdua memang ingin memiliki anak. Kami membutuhkan pengobatan khususnya saya dalam proses kehamilan ini.

Saya menggunakan kartu kredit saya untuk membayar pengobatan tersebut. Begitu anak saya lahir, kami sangat gembira, karena kami dikarunia seorang anak laki-laki yang sehat dan lucu. Tapi di saat saya mengharapkan bantuan dari segi keuangan dengan utang kartu kredit saya untuk pengobatan, Andi malah mengatakan bahwa saya harus menyelesaikan sendiri. Ditambah lagi dengan keputusannya untuk memiliki investasi Reksadana lain dengan hanya namanya saja. Hal ini semua membuat saya jenuh dan sakit hati. Walau dalam hal keuangan terlihat kami berkecukupan, tapi di lain sisi saya seperti hidup sendiri memenuhi semua kebutuhan saya dan anak saya.

Contoh di atas ini merupakan illustrasi yang mungkin bisa menjadi pelajaran bagi Anda pasangan muda dalam mengelola dan mengatur keuangan Anda berdua. Dalam pembahasan kali ini kami ingin berbagi pandangan dan strategi yang dapat Anda lakukan dalam hal mengatur pembagian keuangan keluarga Anda.

Uang, Keputusan Bersama

Anda dapat menggunakan berbagai macam formula untuk membuat keuangan keluarga Anda menjadi harmonis, tapi terkadang hal ini tidak berjalan lama. Kehidupan bukanlah hitungan matematis yang pasti. Dalam hal uang, semua setuju bahwa uang adalah sebagai alat tukar, tapi setiap orang memiliki cara pandang keuangan yang berbeda.

Sering kali pasangan muda mengatakan “saya sangat mencintai kamu”. Tapi mereka terkadang lupa atau mengabaikan permasalahan uang. Seperti contoh di atas, pasangan Andi dan Dita walau sudah menikah selama 5 tahun tetap saja tidak membicarakan permasalahan keuangan mereka. Uang terkadang merupakan hal yang sangat sulit untuk dibicarakan. Tapi Anda harus ingat, bahwa menyamakan persepsi keuangan dalam mengarungi kehidupan berkeluarga menjadi keharusan. Jangan sampai keuangan yang tadinya aman dan harmonis menjadi berantakan.

Bekerja sama dalam hal keuangan keluarga harus dilakukan. Bila Anda dan pasangan Anda bekerja, maka Anda menggabungkan dua pemasukan menjadi satu dan dua pengeluaran menjadi satu pula. Kedua hal ini membutuhkan perencanaan atau pembagian yang bijak dan adil. Bisa saja Anda dan pasangan Anda mengaturnya dengan hanya satu pemasukan. Misalkan suami Anda menghasilkan pendapatan yang lebih besar yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan Anda dari penghasilan Anda dapat mengalokasikan semua pendapatan Anda untuk tujuan investasi masa depan. Dalam hal ini tidaklah jelas batasan antara uang saya, Anda atau kita. Semua yang dihasilkan merupakan uang bersama. Semua ini merupakan tujuan yang Anda dan pasangan Anda tetapkan bersama.

Membicarakan keuangan Anda dan pasangan Anda akan membantu Anda dalam mengalokasikan dana untuk tujuan masa depan.

Atau Anda dapat menetapkan bahwa salah satu dari Anda berdua harus tetap tinggal di rumah. Semua ini bisa menjadi pilihan dalam keuangan keluarga. Keputusan seperti ini membutuhkan perencanaan yang lebih seksama dengan penghasilan hanya dari satu orang, sehingga sangat dibutuhkan perencanaan proteksi yang bagus serta pengaturan pengeluaran yang bijak. Membedakan antara keinginan dan kebutuhan haruslah diperjelas. Mungkin ada yang mengatakan bahwa Anda kuno.

Biarlah, keputusan yang Anda dan pasangan Anda ambil adalah keputusan yang masuk akal dan menuju cita-cita keharmonisan dalam kehidupan, baik emosi maupu keuangan.

Empat Hal Penting

Pembagian kerja sangatlah dibutuhkan dalam hal mengatur keuangan. Contoh singkatnya, siapa yang membayar semua kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Misalkan Anda sebagai istri yang harus membayar maka suami dalam hal ini harus mentransfer dana yang cukup setiap bulan untuk memenuhi semua kebutuhan keuangan keluarga.

Bila Anda memutuskan untuk mendelegasikan satu orang untuk membayar semua tagihan bulana keluarga maka hal penting yang harus diperhatikan adalah kejujuran. Anda berdua haruslah terbuka satu dengan yang lain berkenaan dengan permasalahan uang. Jangan sampai bila Anda menggunakan rekening bersama dan salah satu dari Anda mengambil dana dalam jumlah besar dan tidak mengatakan kepada pasagan Anda. Begitu pasangan Anda membutuhkan untuk hal yang sangat penting ternyata dana yang tersedia tidak mencukupi.

Pengeluaran menjadi sangatlah penting. Anda berdua harus mencapai kata sepakat dalam merencanakan pengeluaran. Hal ini biasanya berkaitan dengan pengeluaran yang tidak tetap, misalkan keputusan untuk mengganti mobil dengan yang baru setelah berapa lama? Atau apa yang Anda berdua pikirkan berkenaan dengan liburan? Sebagai kesimpulan, Anda harus membicarakan dan bersepakat dalam kebutuhan yang harus dipenuhi, apa yang menjadi keinginan bersama dan apa yang dapat Anda penuhi.

Hal terakhir yang menjadi sangat penting adalah menabung. Dalam hal ini visi ke depan menjadi sangat penting. Dengan tujuan yang Anda dan pasangan tentukan akan memberikan motivasi serta pemilihan strategi yang dapat membantu Anda mencapai tujuan masa depan yang dimiliki. Dengan begitu Anda juga akan melihat pentingnya pengalokasian dana saat ini dan dimulai saat ini juga.

”Starting Point”

Di akhir ulasan kali ini kami akan memberikan beberapa pertanyaan yang mungkin timbul dan semoga dapat memberikan masukan dan cara pandang baru dalam melihat keuangan keluarga.
Apakah dibutuhkan simpanan dengan nama kita (pasangan suami, istri)?

Ingat illustrasi di atas, Andi dan Dita, walau masing-masing dari mereka memiliki keuangan yang cukup baik, tetapi dalam pengaturan serta penyelarasan antara keduanya sangat kurang. Memang ada baiknya bila Anda memiliki satu simpanan dengan nama berdua. Dengan begitu masing-masing dari pasangan suami istri dapat membagi sebaian penghasilan bulanannya untuk kebutuhan keluarga secara menyeluruh.

Menurut hemat kami tetaplah memiliki rekening atau simpanan dengan nama sendiri. Sehingga bila Anda membutuhkan sesuatu untuk kebutuhan Anda sendiri, Anda dapat mengambilnya dari simpanan sendiri.

Memang simpanan berdua sebaiknya dilakukan. Tapi berapa besar sebaiknya masing-masing dari pasangan suami istri memasukkan dalam simpanan tersebut setiap bulannya?

Dalam hal ini, semua sangat bergantung dengan pembicaraan dan keputusan yang Anda tetapkan. Sebagai contoh Anda dapat membaginya sesuai dengan proporsi pendatapan masing-masing. Misalkan, Andi berpenghasilan Rp 10 juta/bulan dan Dita Rp5 juta. Mereka bersepakat untuk berbagi rata pengeluaran kebutuhan sehari-hari.

Langkah awal yang bisa Anda lakukan adalah dengan menghitung besarnya pengeluaran sehari-hari selama sebulan untuk kebutuhan keluarga. Misalkan setelah menghitungnya Anda sekeluarga mengeluarkan biaya setiap bulan sebesar Rp.7 juta. Untuk membagi rata bagian masing-masing sesuia dengan penghasilan masing-masing maka sebaiknya Anda menghitungnya dengan presentasi.

Pertama yang anda lakukan adalah menjumlahkan total penghasilan berdua. Total pendapatan keluarga setiap bulan Rp.15 juta. Kemudian total pengeluaran dibagi dengan total pemasukan (Rp 7 juta/15 juta) menghasilkan 46.67 persen. Dengan hasil ini maka Andi menempatkan 46.67 persen dari penghasilannya, begitu juga dengan Dita. Jadi Andi menempatkan Rp 4,667,000, sedangkan Dita menempatkan Rp 2,333,500. Dengan cara ini maka masing-masing dari Andi dan Dita menempatkan dana dengan porsi yang sama sesuai dengan penghasilan masing-masing.

Bagaiman bila penghasilan istri sangat kecil dibandingkan dengan suami. Apakah istri bisa hanya memakai penghasilannya untuk kebutuhan sendiri?

Semua ini sangat bergantung dengan kesepatan Anda dan pasangan Anda. Bila memang itu keputusan Anda berdua maka lakukanlah. Tapi menurut hemat kami, sebaiknya walau penghasilan istri jauh lebih kecil dibandingkan dengan suami, istri tetap menempatkan sebagian kecil dari penghasilannya setiap bulan. Mengapa?

Karena dengan begitu Anda sebagai istri tetap memiliki bagian yang sama dalam kehidupan keuangan keluarga. Sehingga Anda merasa bahwa Anda ikut andil dalam perencanaan keuangan keluarga serta ikut mengambil keputusan berkaitan dengan hal ini.

Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.

Leave a Reply