Perencanaan yang Dibutuhkan agar Bebas Krisis Finansial
Semasa krisis yang menimpa Indonesia, mulai tahun 1997, berbagai media, baik surat kabar maupun tv, menanyangkan atau memberitakan banyak perusahaan yang gulung tikar dan akibatnya banyak orang yang kehilangan sumber pendapatan.
Menurt informasi, angka pengangguran meningkat mencapai 40 juta. Sebuah angka yang sangat tinggi. Saat ini kita tinggal di sebuah era yang sangat tinggi ketidakpastiannya, tidak ada lagi rasa aman (secara finansial) bagi semua orang. Dengan terputusnya pendapatan regular akibat PHK, sangat sulit bagi keluarga untuk dapat mempertahankan gaya hidup yang dilakukan selama ini—untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sangat sulit.
Setiap risiko kehilangan pekerjaan selalu mengharuskan Anda untuk mengencangkan ikat pinggang atau membatasi anggaran yang dibelanjakan. Hal ini berdampak terhadap keuangan keluarga—tidak terpenuhinya berbagai kebutuhan keluarga dan tentunya kesulitan untuk dapat meneruskan cicilan utang yang selama ini dimiliki.
Oleh karena itu, dalam pembahasan kali ini, kami mencoba memberikan beberapa seri artikel yang berhubungan dengan risiko kehilangan pekerjaan akibat PHK atau pensiun dini dan perencanaan yang dibutuhkan untuk dapat terus menjalankan kehidupan keluarga secara aman dan terbebas dari krisis keuangan.
Perhatikan Tips Ini
Bila Anda terkena musibah pemutusan hubungan kerja atau PHK, kami menganjurkan agar Anda untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan seputar keuangan Anda dan keluarga. Sangatlah sering terjadi kesalahan pengambilan keputusan seputar keuangan keluarga terjadi beberapa minggu setelah Anda tertimpa musibah. Untuk itu kami mencoba untuk memberikan beberapa masukan atau tips agar Anda terhindar dari keputusan yang salah, yang bisa merusak kondisi keuangan Anda dan keluarga.
Lakukan dengan Hati-hati
Dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan keuangan Anda, apalagi bila keputusan tersebut cukup besar, seperti menjual rumah, melikuidasi aset yang ada dan merestruturisasi utang yang dimiliki, maka kami menganjurkan agar Anda memikirkannya dua kali lebih banyak dari biasanya. Bila Anda melakukan saran kami terdahulu untuk menyiapkan dana darurat, maka pertahankan dana tersebut. Karena dalam keadaan krisis seperti ini, cash is the king.
Hati-hatilah dengan Penipu
Bagi mereka yang baru saja mendapatkan kemalangan, biasanya menjadi sasaran empuk para penipu untuk menawarkan berbagai jalan untuk menjadi kaya secara singkat. Misalnya seperti, pola multilevel marketing dengan pola binari, investasi dengan bunga tinggi tanpa risiko atau berbagai tawaran lain yang secara akal sulit untuk dapat diterima. Untuk itu, cobalah untuk lebih berhati-hati dalam keadaan seperti ini, karena secara psikologis Anda mudah untuk tergiur mengambil keputusan yang mungkin merugikan di kemudian hari. Bila memang ada sebuah kesempatan untuk Anda berinvestasi, cobalah untuk berkonsultasi atau bertanya dengan orang yang lebih tau atau profesional dalam bidang tersebut.
Gunakan dengan Bijak
Jadikan dana dari PHK sebagai dana untuk berjaga-jaga, jangan gunakan untuk kebutuhan harian. Tempatkan dana ini di bank dan kemudian ambil keputusan beberapa minggu kemudian berkenaan dengan dana ini setelah Anda merasa cukup mantap dan stabil dalam mengambil keputusan. Dana ini bisa menjadi tambahan dana darurat yang selama ini Anda sisihkan. Sekali lagi dalam situasi seperti saat ini, cash is the king.
Berlibur dan Beristirahatlah
Dalam beberapa minggu awal setelah pemutusan hubungan kerja (PHK), jangan mengambil keputusan besar, tundalah untuk beberapa minggu. Berliburlah tanpa menghabiskan tabungan yang Anda miliki. Bisa saja Anda beristirahat ke rumah saudara yang tinggal di sekitar pegunungan. Relaksasi menjadi sangat penting bagi Anda. Cobalah untuk beristirahat dulu.
Cobalah Berkonsultasi
Hal ini ada baiknya Anda konsultasikan dengan para profesional. Tapi kendala yang mungkin mucul adalah beban biaya yang harus ditaggung terkadang cukup besar. Paling tidak cobalah untuk membicarakan dengan teman Anda yang memiliki latar belakang pendidikan yang cocok dengan permasalahan Anda.
Walau Anda tidak merasakan stres akibat PHK, sebaiknya Anda memahami dan mengenali bahwa Anda memasuki fase transisi yang sulit. Dalam fase ini, jangan mudah mengambil keputusan penting, pelajari dan pikirkan dengan masak sebelum keputusan diambil.
Risiko Terlalu Lama Tidak Bekerja
Masa-masa tidak bekerja merupakan waktu yang penuh risiko keuangan. Banyak sudah kejadian di mana PHK mengakibatkan banyak cicilan rumah yang terlantar dan kehidupan keluarga yang tadinya makmur, berubah menjadi berantakan. Itulah yang terjadi.
Melihat pengalaman krisis keuangan yang melanda Indonesia dan berdampak langsung kepada mereka yang tertimpa musibah PHK, membuat kami mencoba untuk mencari berbagai startegi untuk dapat melalui fase yang penuh dengan tekanan keuangan dengan bijak dan aman. Kebanyakan krisis keuangan terjadi karena manajemen yang kurang tepat. Dengan kata lain, mungkin tidaklah berpengaruh berapa uang yang Anda miliki kalau Anda tidak mengelolanya dengan baik, maka uang tersebut tidaklah pernah cukup.
Seseorang yang selama ini mengelola uangnya dengan bijak tetap akan merasakan beban yang besar akibat terputusnya pendapatan regular bulanan. Sangatlah mudah untuk merasa terbebani dengan berbagai kebutuhan yang selalu ada.
Menurut hemat kami, langkah pertama yang mungkin bisa Anda lakukan bila terjadi PHK dan masa pengangguran itu panjang adalah mencari tau apa yang mungkin menjadi risiko. Apa yang mungkin hilang dalam situasi seperti ini, dan langkah apa yang akan diambil orang lain terhadap Anda? Misalkan kegagalan Anda mencicil utang kredit rumah Anda. Mungkin memikirkan hal ini bisa sangat menakutkan, akan tetapi kami melihat pentingnya hal itu untuk bertahan dan keluar dari masa sulit ini.
Untuk mengetahui berbagai risiko yang bisa merusak tatanan keuangan keluarga dalam masa ini, ada baiknya Anda melakukan pendaftaran terhadap semua aset yang Anda miliki, beserta nilai dan bila ada nilai utang yang masih terbebani di aset-aset tersebut. Contoh mudahnya adalah bila Anda memiliki rumah (terbebas dari KPR) maka nilai yang Anda cantumkan merupakan nilai pasar bila Anda akan menjualnya saat ini. Bila ternyata Anda masih memiliki utang terhadap rumah tersebut, maka nilai utang tersebut harus Anda cantumkan juga.
Untuk melakukan aksi di atas, maka kami mencoba untuk memberikan langkah praktis untuk membantu Anda mendaftarkan semua aset yang Anda miliki dan nilai dari aset tersebut dalam sebuah tabel seperti di bawah ini—sekali lagi, gunakah harga pasar dalam menilai harga dari aset yang Anda miliki bila Anda akan menjualnya sekarang. (lihat tabel)
Setelah Anda mengisi semua daftar di atas, maka langkah selanjutnya adalah menentukan aset mana yang bisa atau mau Anda lepaskan. Dan aset mana yang tidak bisa Anda jual. Dalam hal ini Anda harus memprioritaskan aset-aset mana saja yang sangat Anda perlukan, mulai dari angka 1 yang memiliki prioritas tertinggi dan terus 2 untuk selanjutnya dan 3 untuk selanjutnya dan seterusnya.
Dari daftar aset yang telah Anda prioritaskan, gunakan stabilo untuk menandakan 5 aset yang merupakan prioritas tertinggi. Kelima aset ini merupakan aset yang harus Anda jaga keberadaannya selama masa tidak kerja walau apapun yang terjadi.
Setelah Anda memprioritaskan kelima aset yang paling penting bagi Anda, maka selanjutnya adalah mencari tau apa yang harus dilakukan untuk menjaga kelima aset penting tersebut.
Gunakan tabel di atas untuk menentukan biaya yang harus Anda keluarkan untuk menjaga agar aset tersebut tetap menjadi aset Anda. Misalkan dari prioritas Anda, rumah merupakan aset yang penting. Bila Anda masih memiliki cicilan bulanan untuk kredit rumah Anda maka masukkan nilai tersebut sebagai biaya. Misalkan Anda memiliki asuransi (berjaga terhadap berbagai risiko) maka nilai ini juga dimasukkan sebagai biaya untuk mempertahankan dan menjaga rumah Anda tetap menjadi milik Anda. Satu hal penting, pehitungkan biaya dalam bulanan jangan tahunan.
Bila salah satu prioritas aset Anda adalah deposito Anda, maka biaya yang harus dikeluarkan tidak ada. Maka kosongkan saja bagian biaya untuk aset ini. Demikian seterusnya untuk kelima aset yang menjadi prioritas Anda.
Setelah Anda selesai dengan langkah ini maka total jumlah biaya yang terhitung merupakan prioritas pengeluaran Anda—nilai tersebut harus menjadi nilai pendapatan yang harus Anda miliki setiap bulan. Tapi semua pengeluaran ini bukan total pengeluaran atau anggaran.
Demikianlah langkah awal yang bisa Anda lakukan. Dan tunggu seri perencanaan ini selanjutnya.n
Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.
