Pasangan Hidup dan Uang: Mitos dan Fakta(2)
Dua minggu yang lalu kita sudah memaparkan dua mitos keuangan, pertama hubungan cinta dan keuangan dan kedua adalah membangun kekayaan bisa dimulai dengan nilai investasi yang minimal. Berikut mitos-mitos keuangan lainnya:
Mitos 3: Penghasilan kita yang terbatas, mengakibatkan kita tidak dapat berinvestasi
Fakta 3: Setiap orang berpenghasilan cukup untuk dapat berinvestasi.
Banyak individu merasa selalu saja kekurangan. Dan selalu berharap bila saja saya dapat menghasilkan lebih besar lagi setiap bulannya, saya dapat mengatur keuangan dan menginvestasikannya untuk masa depan. Tapi begitu penghasilan Anda dinaikan berdasarkan performa kerja Anda yang baik, maka Anda akan mengeluhkan hal sama, di mana merasa tetap kekurangan karena besarnya pengeluaran. Ini merupakan masalah klise setiap keluarga (orangtua). Bila Anda coba tanyakan kepada pasangan suami istri mengapa mereka tidak menyisihkan dana setiap bulannya dan diinvestasikan untuk masa depan, mereka akan selalu menjawab karena penghasilan kami terbatas (tidak cukup penghasilan kami sekarang). Kebenarannya adalah, masalah yang timbul dalam keuangan pasangan suami istri bukannya berapa besar penghasilan mereka, akan tetapi permasalahannya adalah kebiasaan pengeluaran mereka.
Bila Anda mencoba untuk menghitung penghasilan Anda berdua dari bekerja, misalkan Andi berpenghasilan Rp5.000.000 per bulan. Dan Susi, istrinya berpenghasilan Rp2.000.000 per bulan. Maka setiap bulannya Anda sekeluarga menghasilkan dana sebesar Rp7.000.000. Bila dihitung selama 20 tahun masa kerja Anda berdua maka total pengahasilan Anda berdua tidak kurang dari Rp1,6 miliar. Jadi sekarang yang harus Anda masukkan dalam pikiran Anda bahwa penghasilan yang Anda hasilkan dari jerih payah setiap bulan bukannya merupakan penghasilan untuk dibelanjakan akan tetapi merupakan penghasilan untuk dialokasikan guna kebutuhan sekarang dan masa datang.
Mitos 4: Bila kita membicarakan masalah keuangan, semuannya akan berjalan baik seperti adanya.
Fakta 4: Bila Anda berdua tidak memulai untuk membicarakan masalah keuangan keluarga, maka kemungkinan Anda hidup kekurangan di hari tua menjadi mungkin.
Komunikasi keluarga antara suami dan istri terkadang sangat kurang, di mana suami hanya sibuk bekerja mencari uang dan istri dengan kesibukannya sendiri mengurus rumah tangga. Apalagi bila membicarakan masalah keuangan keluarga jarang sekali kami temui di mana pasangan suami istri memiliki pandangan mengenai keuangan yang saling mengisi satu dengan yang lain. Membicarakan uang, tidak merupakan hal biasa bagi keluarga Indonesia pada umumnya. Perasaan takut dan tabu sering kali timbul bila kita ingin membicarakan keuangan keluarga. Padahal keuangan keluarga tidak ada bedanya dengan sebuah perusahaan. Di mana ada pemasukan dan pengeluaran. Sehingga alokasi yang tepat dan sesuai dengan tujuan masa datang menjadi prioritas utama. Sehingga menurut hemat kami semua keluarga atau pasangan suami istri sebaiknya berkomunikasi satu dengan yang lainnya untuk membicarakan berbagai alternatif prioritas yang akan dicapai di masa datang.
Jadi, kita harus memulai dari mana sekarang? Itu pertanyaan mudah, seperti halnya berbagai aspek kehidupan, tempat untuk memulai menata keuangan keluarga anda adalah dari rumah. Lebih spesifik lagi, Anda dan pasangan anda harus belajar untuk membicarakan segala hal berkaitan dengan keuangan keluarga. Mengapa kami mengatakan demikian? Karena sebagian besar masyarakat kita sangat “tabu†untuk membicarakan masalah keuangan. Sedikit dari kita yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang secara bebas menceritakan permasalahan keuangannya. Sehingga, secara umum masyarakat kita tumbuh dengan sedikit atau tanpa pengetahuan tentang keuangan termasuk di dalamnya bagaimana membicarakan permasalahan keuangan dalam keluarga.
Fakta bahwa masyarakat kita masih sangat “tabu†membicarakan keuangan dalam keluarga adalah sebuah tragedi. Bila Anda bekerja bersama dalam keuangan keluarga, Anda akan mendapatkan hasil yang berlipat. Demikian juga sebaliknya. Secara umum, dua kepala lebih baik dari hanya satu kepala. Apa pun tujuan spesifik keuangan Anda dan keluarga di masa datang, adanya seorang partner, bekerja bersama Anda, memberikan dukungan dan ide-ide, membuat proses pencapain semua tujuan keuangan menjadi sangat menyenangkan.
Banyak masyarakat begitu menikah, merasa bahwa mereka mengetahui berbagai pandangan atau perasaan pasangan satu sama lain. Membicarakan pandangan pasangan Anda mengenai uang menjadi sangat diperlukan. Semua ini sangat tergantung dengan di mana mereka dibesarkan. Bila Anda dibesarkan di keluarga dengan sistim keterbuakaan berkenaan dengan uang, maka dengan sangat mudah ia juga dapat membicarakan berbagai hal berkaitan dengan uang. Tapi bila Anda dibesarkan dalam lingkungan yang tidak atau jarang sekali membicarakan keuangan atau uang dalam pembicaraan keluarga, maka dengan begitu, ia akan sangat tertutup dan “tabu†membicarakan masalah yang satu ini. Jadi menurut hemat kami, sudah sebaiknya Anda belajar kembali untuk memahami atau mencoba memngerti perasaan atau pandangan pasangan Anda masing-masing berkenaan dengan uang. Dengan mengenal perasaan dan pandangan pasangan Anda maka akan memudahkan Anda untuk merencanakan keuangan masa depan. Dan selama proses perencanaan itu dilaksanakan Anda juga merasakan kegembiraan, tanpa ada rasa terpaksa.
Semoga berbagai mitos dan realita yang kami jabarkan diatas dapat membantu Anda melihat dan mempertimbangkan, apakah perspektif Anda berkenaan dengan keuangan sudah tepat. Dengan mengetahui dan mempelajari segala hal berkenaan dengan keuangan keluarga akan banyak membantu Anda melihat dan merencanakan keuangan keluarga untuk masa yang datang. Semoga cukup bermanfaat.[mi]
M. Ichsan
Sumber www.Pembelajar.com
