Mengelola Uang THR

BULAN November dan Desember ini jumlah uang yang akan beredar di masyarakat akan tinggi sekali. Ini terjadi karena pada bulan itu para pekerja akan menerima tunjangan hari raya (THR) untuk Lebaran atau Natal.Bagi sebagian orang, THR itu akan digunakan untuk biaya mudik ke kampung halaman. Mereka yang tidak mudik biasanya memakai uang THR untuk berbelanja, baik yang sifatnya mendesak maupun tidak. Ada juga yang memakai uang THR untuk membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga yang tidak terbeli pada hari-hari biasa.

Nafsu berbelanja masyarakat menjadi tinggi karena selain memegang uang dalam jumlah banyak, toko-toko juga menggoda dengan memberikan diskon gede-gedean. Dorongan berbelanja dengan alasan mumpung diskon, rasanya sukar dikendalikan.

“Menghabiskan uang THR dengan berbelanja sudah menjadi kebiasaan di masyarakat. Misalnya selama ini mereka ingin membeli pesawat televisi yang lebih besar, namun karena gajinya tidak mencukupi, keinginan itu tidak bisa terpenuhi. Dengan mendapat THR, mereka mempunyai kesempatan memenuhi keinginan itu,” kata Safir Senduk, konsultan perencana keuangan.

Belanja bisa dikategorikan dalam tiga hal. Pertama, belanja untuk kebutuhan hari raya. Kedua, belanja untuk kebutuhan keluarga yang tidak terbeli pada hari-hari biasa. Ketiga, belanja untuk kebutuhan pribadi yang tidak terbeli sebelumnya.

Apa pun tujuan belanja, Safir berpesan, pergunakanlah uang THR dengan bijak. Menurut Safir, sebelum dipergunakan, sebaiknya uang THR disisihkan sebagian untuk membayar utang. Dengan demikian THR bisa meringankan beban utang dan bunga yang harus dibayar pada bulan-bulan berikut.

“Manfaatkan THR untuk membayar utang kepada perorangan, utang kartu kredit, atau utang dengan bunga besar yang tidak terjadwal. Kalau utang cicilan rumah atau cicilan mobil sudah terjadwal dan terhitung, sehingga tidak terlalu berpengaruh jika dibayar dengan uang THR,” kata Safir.

Besarnya dana yang dipakai untuk membayar utang, maksimal 30 persen. Kemudian sisihkan lagi sebesar 10 persen untuk ditabung. Sisanya baru digunakan untuk memenuhi kebutuhan hari raya. Angka 30 persen untuk membayar utang adalah angka maksimal. “Jika memang kebutuhan untuk hari raya cukup besar angka 30 persen bisa dikecilkan menjadi 20 persen, namun tetap harus ada dana yang disisihkan untuk utang dan tabungan,” tegas Safir.

Jika tidak memiliki utang, sebaiknya perbesarlah jatah tabungan. “Kebutuhan hari raya kadang-kadang sangat besar, terutama bagi orang yang mudik. Penyisihan sebagian uang THR untuk ditabung akan sangat membantu kondisi keuangan setelah hari raya,” kata dia.

***

LALU bagaimana merencanakan keuangan untuk mudik Lebaran? Safir mengakui biaya mudik sangat mahal, tergantung dari jumlah orang yang mudik, jarak, dan jenis transportasi. Selain itu selama di kampung halaman, pemudik pun akan mengeluarkan uang cukup besar seperti untuk oleh-oleh, untuk sanak keluarga, makan, dan sebagainya.

“Sejak ke luar rumah berangkat mudik, sudah ada uang keluar. Oleh karena itu, sangat penting membawa uang kontan,” kata Safir.

Bawalah uang kontan secukupnya. Pemudik harus bisa menghitung sendiri kebutuhannya. Biaya perjalanan dua orang tentu berbeda dari biaya untuk lima orang. belanja yang sangat membutuhkan uang kontan adalah makan. Jika pemudik melakukan perjalanan dengan transportasi umum, harga tiket kadang sudah termasuk makan. Namun, seringkali pemudik ingin jajan makanan lain, atau menyambung perjalanan dengan kendaraan umum yang lain sehingga tetap memerlukan uang kontan.

Sedangkan pemudik yang melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi akan membutuhkan uang kontan lebih banyak lagi, karena harus mengisi bensin dan makan dalam perjalanan. Belum lagi bila di jalan ingin membeli sesuatu untuk oleh-oleh dan kebutuhan lain. “Sebaiknya juga berhati-hati karena bisa hilang atau dirampok. Jadi sisakan sebagian dalam tabungan,” kata Safir.

Idealnya uang yang dihabiskan untuk kebutuhan ini 1,5 sampai 2,5 kali dari pengeluaran bulanan. “Jika terlalu besar, sebaiknya jangan memaksakan diri karena nanti justru akan menyulitkan diri sendiri setelah hari raya selesai,” tegas Safir.

Namun, Safir mengingatkan untuk tidak terlalu mengandalkan ATM (anjungan tunai mandiri) karena ada kalanya di tempat tujuan tidak tersedia ATM bank tertentu. Kalaupun ada, kemungkinan ATM rusak atau kehabisan dana juga bisa terjadi. “Untuk mencegah hal itu ada baiknya membuka tabungan di beberapa bank,” kata Safir.

Uang kontan juga diperlukan untuk memberikan bantuan bagi keluarga yang didatangi atau uang untuk anak-anak kecil. “Seringkali jika kita berkunjung ke sanak keluarga, mereka menjamu kita dengan hidangan luar biasa banyak. Menjamu seperti itu membutuhkan biaya besar. Ada baiknya kita memberikan mereka uang,” ujar Safir.

Jika ada sisa, ada baiknya pemudik membeli oleh-oleh bagi kawan di kantor, agar mereka bisa merasakan kegembiraan kita pulang ke kampung halaman. “Jangan lupa, pemudik masih membutuhkan uang untuk biaya kembali. Karena itu, pemudik harus menghitung betul berapa biaya yang pasti keluar, dan berapa biaya yang bisa dibelanjakan di luar biaya pasti itu,” tegas Safir. (ARN)

Dikutip dari Kompas edisi Minggu, 1 Desember 2002.

Leave a Reply