Mengelola Keuangan Saat Kehilangan Pekerjaan

KEHILANGAN pekerjaan memang bukan hal menyenangkan, apalagi karena pemecatan oleh perusahaan. Tetapi tidak sedikit pula yang sengaja meninggalkan pekerjaannya dengan berbagai alasan. Ironisnya, mencari pekerjaan baru belum tentu bisa dilakukan dengan cepat. Bagi kalangan yang terpaksa kehilangan pekerjaan atau dengan sengaja meninggalkan perusahaan, pasti akan mengalami masa tunggu untuk mendapatkan pekerjaan baru. Itu berarti ada masa di mana kalangan tersebut tidak memperoleh penghasilan tetap.

Jika masa tunggu tersebut tidak terlalu lama mungkin bukan masalah, namun siapa yang bisa menggaransi bahwa setelah kehilangan pekerjaan seseorang bisa langsung mendapatkan pekerjaan baru? Seandainya Anda tergolong kalangan yang tengah tidak bekerja, ada baiknya mempertimbangkan beberapa kiat pengelolaan keuangan pada saat tidak berpenghasilan tetap, agar tetap bisa bertahan hingga memperoleh pekerjaan baru.

Pertama, bagaimana memanfaatkan uang pesangon. Sepanjang berhentinya Anda dari perusahaan tempat bekerja bukan karena melakukan kesalahan, biasanya akan mendapatkan pesangon yang besarnya tergantung dari masa kerja dan jabatan terakhir Anda. Hanya saja, banyak kalangan terkadang “lupa diri” dalam menyikapi pesangon yang mungkin jumlahnya cukup besar. Uang pesangon yang cukup besar malah dibelanjakan untuk hal yang tidak perlu, misalnya membeli aset dan sebagainya. Padahal, pesangon bisa diartikan sebagai pengganti penghasilan selama tidak bekerja. Misalnya, Anda mendapatkan pesangon 10 kali gaji, itu berarti pesangon tersebut harus disimpan untuk menutup biaya hidup Anda minimal selama 10 bulan ke depan. Itu dengan catatan Anda memang akan mencari pekerjaan baru, dengan target pekerjaan baru sudah diperoleh dalam jangka waktu paling lama 10 bulan kemudian.

Yang ideal, pesangon itu diinvestasikan ke dalam berbagai produk keuangan, baik di pasar uang maupun pasar modal. Keuntungan dari investasi dana pesangon itulah yang kemudian dipergunakan sebagai sumber “pemasukan baru” dalam membiayai kebutuhan sehari-hari. Namun, dalam praktiknya, jika nilai pesangon tidak terlalu besar, tentu agak sulit menghasilkan bunga atau keuntungan yang jumlahnya cukup besar pula. Ada baiknya Anda tidak terlalu bertumpu pada dana pesangon semata-mata, sebab penghasilan dari menginvestasikan dana pesangon bisa lebih kecil dibanding nilai penghasilan Anda sebelumnya.

Kedua, menata kembali aset Anda. Saat tidak berpenghasilan, pertimbangkan untuk memproduktifkan aset yang semula hanya bersifat konsumtif. Misalnya, jika Anda memiliki beberapa kendaraan dan semata-mata hanya untuk keperluan konsumtif, pertimbangkan untuk dikonversi menjadi aset yang lebih produktif. Jual sebagian kendaraan Anda dan dananya investasikan ke tempat lain. Jangan lupa, sekalipun kendaraan tersebut tidak dipergunakan, tetap akan mengalami penyusutan nilai dan semakin lama harganya semakin merosot.

Begitu juga bila Anda memiliki lebih dari satu rumah, maka rumah yang tidak Anda tempati ada baiknya dikontrakkan atau bahkan dijual untuk kemudian dananya ditempatkan dalam investasi lain yang setiap saat bisa menghasilkan keuntungan guna membiayai kehidupan Anda. Namun, penjualan aset tetap seperti itu tentu harus melalui pertimbangan matang. Misalnya, selama di tangan Anda harga rumah memang sudah meningkat, Anda akan mendapatkan keuntungan dari penjualan tersebut. Tetapi, jika harganya tidak memadai, jangan dipaksakan. Penjualan rumah hanya akan dilakukan jika kondisi keuangan Anda mengalami pemburukan, sebab rumah juga merupakan alat investasi. Hanya saja sifatnya jangka panjang.

Ketiga, menentukan prioritas dalam tindakan konsumsi, menabung, investasi, dan proteksi. Tatkala masih berpenghasilan tetap, penghasilan Anda selayaknya dialokasikan terhadap keempat hal itu. Namun, saat Anda kehilangan pekerjaan, tentu Anda tidak memiliki keleluasaan lagi untuk mengalokasikannya. Tetapi keempat hal itu bukan berarti harus berhenti. Konsumsi, misalnya, tetap harus dipenuhi. Yang membedakan adalah penggunaan dana untuk konsumsi primer, sekunder, dan tersier harus diatur kembali. Jika pesangon Anda memadai, silakan saja memenuhi ketiga jenis konsumsi tersebut. Namun, bila pesangon terbatas, utamakan konsumsi primer yang dipenuhi, yakni untuk papan, pangan, dan sandang.

Pengertian papan di sini, jika Anda memiliki rumah yang diperoleh dengan cara mencicil, maka itu harus tetap diprioritaskan. Jangan sekali-kali Anda menunggak pembayaran kredit rumah karena akan memberi dampak yang malah akan membahayakan Anda. Yang bisa Anda lakukan adalah melakukan restrukturisasi, misalnya memperpanjang masa angsuran dan menghitung ulang kewajiban tiap bulan sehingga menjadi lebih rendah. Cara semacam ini jauh lebih baik ketimbang Anda menunda atau malah tidak membayar angsuran kredit Anda.

Demikian juga untuk pangan. Jika sebelumnya Anda seringkali makan di berbagai restoran mewah, mungkin ada baiknya dikurangi. Pun perilaku dalam konsumsi sandang. Untuk sementara, ada baiknya Anda tidak memprioritaskan barang-barang bermerek. Toh Anda tidak melanggar hukum jika tidak mengenakan pakaian merek terkenal. Jadi, kenapa mesti dipaksakan?

Lepas dari itu, prioritas utama saat tidak berpenghasilan adalah memastikan Anda tetap terproteksi, baik masa kini maupun masa datang. Itu artinya, Anda harus menilik kembali asuransi kesehatan maupun asuransi jiwa yang Anda ikuti. Jika sebelumnya Anda mendapatkan fasilitas kesehatan dari perusahaan, maka setelah tidak bekerja, fasilitas itu jelas menghilang dan Anda harus membayarnya sendiri. Jalan terbaik adalah segera ikuti program asuransi kesehatan. Jika Anda telah mengikuti asuransi kesehatan, tetaplah bayar preminya.

TERAKHIR, kiat dalam menggunakan kartu kredit. Agar dana tunai Anda cukup tersedia untuk keperluan yang lain, Anda bisa saja menggunakan kartu kredit dalam berbelanja. Namun, penggunaan kartu kredit tersebut jangan melebihi masa grace period. Biasanya setiap penerbit kartu kredit memberi rentang waktu 40-50 hari bebas bunga. Nah, Anda bisa memanfaatkan masa bebas bunga itu untuk menjaga cash flow Anda.

Kesimpulannya, kehilangan pekerjaan yang berdampak pada hilangnya penghasilan bukanlah kiamat. Yang terpenting bagaimana menyadari bahwa Anda harus mencari pekerjaan lain, apakah itu bekerja di perusahaan atau malah berwiraswasta. Namun, saat Anda tidak berpenghasilan tetap, ada baiknya mengulas kembali pengelolaan keuangan Anda. Pada banyak kasus, tidak sedikit kalangan yang akhirnya mengalami kesusahan, karena pada satu sisi, mengalami perubahan penghasilan, namun pada sisi lain tidak sudi mengubah pola pengeluaran. *

Dikutip dari Kompas edisi Minggu, 30 Maret 2003.

Leave a Reply