Membangun Pola Menabung Berkala
Mencapai kesejahteraan menjadi impian semua orang. Tentunya ini membutuhkan kerja keras dan cerdas, yang harus dilakukan secara berkesinambungan. Bagaimana caranya? Satu-satu jalan adalah dengan menabung, yaitu dengan menunda kesenangan sesaat di masa sekarang untuk tujuan yang lebih besar di masa datang.
Dari manakah sumber dana untuk tabungan tersebut? Tentunya dari penghasilan yang dibawa pulang setiap bulannya. Penghasilan bulanan seringkali hanya dapat memenuhi kebutuhan bulanan, malah seringkali habis ditengah bulan. Hal inilah yang seringkali terjadi dalam “keluarga muda†karena umumnya mereka masih memerlukan banyak kebutuhan jangka pendek, seperti mobil dan rumah.
Saat ini, bunga kredit murah banyak ditawarkan oleh sektor keuangan. Semua ini mendorong orang untuk berbelanja dengan berhutang. Hutang tidak semuanya buruk. Tapi mengambil hutang tanpa perencanaan yang matang dapat berakibat buruk terhadap keuangan keluarga.
Dua Sumber Penghasilan Utama
Nah berbicara mengenai menabung, ada dua sumber penghasilan yang bisa kita peroleh, pertama adalah dengan kita bekerja setiap hari selama satu bulan kita akan mendapatkan penghasilan—man at work. Yang kedua, money at work, di mana uang atau capital yang sudah Anda kumpulkan yang bekerja dan menghasilkan pendapatan.
Tentunya saja, bila kita bekerja memberikan jasa kita bisa mendapatkan penghasilan. Semakin ahli seseorang, umumnya semakin besar penghasilannya. Tapi pernahkah kita berpikir, apa yang mendorong kita bangun setiap pagi buta, masuk ke mobil dan berangkat ke kantor? Sebagian besar, tujuannya adalah mendapatkan penghasilan yang cukup untuk membayar semua kebutuhan dan bila ada tersisa, dapat digunakan untuk kesenangan seperti liburan, pakaian dan lain-lain.
Sayangnya, tidak ada jalan bagi pekerja atau pegawai untuk dapat hidup sejahtera hanya dengan bekerja dan mendapatkan gaji. Pajak dan inflasi, dua hal pertama yang menggerogoti pendapatan bulanan.
Kebutuhan dan keinginan jangka pendek biasanya menjadi prioritas utama. Yang pada akhirnya dirasakan bahwa penghasilan bulanan yang diperoleh tidak mencukupi. Untuk dapat hidup sejahtera sepanjang masa, satu-satu jalan adalah dengan mencari jalan untuk dapat menyisihkan sebagai dari penghasilan bulanan untuk membangun sebuah kapital (modal).
Jadi bagi Anda yang bekerja atau menjadi pegawai, solusi untuk membangun kesejahteraan adalah dengan mengkonversikan penghasilan bulanan menjadi kapital dengan menyisihkannya sebagai secara berkala.
Nah, mulai terbangunnya sebuah kapital akan memberikan potensi pendatan lain dari kapital yang diinvestasikan. Inilah yang disebut dengan money at work. Uang yang Anda sisihkan dan diinvestasikan yang bekerja keras untuk memberikan penghasilan kepada Anda.
Misalkan, Anda menempatkan investasi dalam bentuk saham. Tentunya bila perusahaan tersebut performanya baik, di akhir tahun umumnya mereka akan membagikan dividen kepada pemegang sahamnya. Sejalan dengan keuntungan yang didapat, harga saham perusahaan juga semakin meningkat.
Hal ini bisa memberikan potensi keuntungan dari sisi kenaikan harga saham. Tapi tentunya, ini juga bisa bergerak berlawan arah, di mana perusahaan mengalami kerugian. Sebagai investor bukan saja Anda tidak mendapatkan keuntungan berupa dividen, tapi juga harus menerima penurunan harga saham di pasar.
Atau Anda berinvestasi dalam bentuk properti. Properti juga memberikan dividen, berupa uang sewa. Tentunya bila uang sewa dapat menutupi semua pengeluaran yang dibutuhkan, properti ini memberikan penghasilan positif. Sebaliknya bila ternyata kebutuhan tetapnya lebih besar dari uang sewa, properti tersebut masih membutuhkan dana untuk menutupinya dari sumber pendapatan lain.
Tentunya, tidak ada seorangpun yang berinvestasi dengan ide “kehilangan uangnyaâ€. Tapi yang banyak terjadi adalah kerugian karena kurangnya perencanaan dan pertimbangan kebutuhan likuiditas.
Kendala Menggapai Kesejahteraan
Sedikitnya, ada 4 kendala utama yang membuat orang gagal menciptakan kehidupan yang sejahtera sebagaimana yang mereka harapkan, yakni kebiasaan untuk menunda-nunda, kebiasaan belanja yang tak terkontrol, pajak, dan inflasi.
Dua faktor akhir atau bisa disebut faktor “eksternal†berkaitan dengan kondisi sosial dan perekonomian suatu negara. Tidak banyak orang yang dapat mempengaruhi tingkat inflasi dan mengatur soal perpajakan dalam suatu negara.
Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang kompleks, bahkan bisa melampaui kemampuan suatu pemerintahan karena hubungan-hubungan dalam skala regional sampai internasional-global. Yang mungkin dapat dilakukan oleh orang perseorangan dalam mengatasi hal ini adalah mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan muncul dengan menarik pelajaran dari sejarah masa lalu. Artinya, sekalipun inflasi dan pajak tidak dapat kita kontrol, namun kita tetap dapat menentukan sikap pribadi terhadap hal-hal tersebut.
Dua hal pertama lebih merupakan masalah personal/pribadi atau dapat juga dikatakan bahwa dua hambatan pertama merupakan faktor “internalâ€.
Faktor “internal†harus diatasi dan diselesaikan pada level personal. Sikap suka menunda-nunda perencanaan keuangan, merupakan faktor utama tidak tercapainya kehidupan sejahtera di masa datang. Menunda perencanaan keuangan guna mempersiapkan biaya-biaya pendidikan anak, misalnya, dapat berdampak buruk kalau dilihat dalam jangka panjang.
Akibatnya, anak-anak yang kita cintai mungkin saja akan kehilangan kesempatan untuk dapat menikmati proses pembelajaran di lembaga-lembaga yang bermutu baik karena keterbatasan biaya.
Harga Mahal karena Sikap Suka Menunda
Sebagai contoh, misalkan Andi saat ini berusia 30 tahun dan berencana untuk menyisihkan sebesar Rp 500.000 setiap bulannya sampai usia pensiun 55 tahun dalam insvestasi yang memberikan tingkat bunga sebesar 9% per tahunnya. Begitu ia memasukan usia 55 tahun, Andi akan memiliki kekayaan lebih dari Rp 560 juta. Akan tetapi bila ia memutuskan untuk menunda pelaksanaan menabung satu tahun saja dan memulainya saat usia 31 tahun, begitu ia berusia 55 tahun, ia hanya akan memperoleh sekitar Rp 506 juta.
Penundaan satu tahun dengan total dana penyisihan sebesar Rp 6 juta, akan berakibat berkurangnya dana masa depan sebesar hampir Rp 55 juta atau total kehilangan sebesar 9 kali dari total tabungan regular. Bagaimana bila Anda menudannya 5, 10 tahun? berapa harga yang harus Anda bayar karena kebiasaan menunda ini? Tentunya akan sangat besar.
“Overspending†Harus Diatasi
Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki. Tapi sebelum bicara mengenai cara mengatasinya, ada baiknya kita lihat dulu apakah Anda terkangkit virus “overspending� Ikuti pertanyaan berikut ini:
- Apakah Anda berbelanja ketika merasa marah, kecewa?
- Apakah Anda tidak tahan untuk tidak ke mal atau department store?
- Apakah banyak barang belanjaan yang Anda beli belum pernah Anda gunakan?
- Apakah Anda cenderung menghindari pembicaraan berkaitan dengan tabungan dan belanja?
- Apakah kebiasaan belanja Anda mengakibatkan masalah dengan pasangan Anda?
- Apakah Anda tidak tahan terhadap berbagai diskon atau promosi yang ditawarkan?
- Apabila barang yang Anda inginkan ternyata lebih mahal dari perkiraan, apakah Anda akan tetap membelinya?
- Apakah Anda mulai mengurangi anggaran lain untuk memenuhi kebutuhan belanja Anda?
- Apakah Anda membayar belanjaan dengan kartu kredit walau Anda tidak memiliki uang tunai?
- Apakah Anda termasuk yang sulit untuk menabung?
- Apakah Anda terbiasa untuk membelanjakan bonus tahunan Anda untuk keinginan Anda?
- Apakah Anda belanja barang mewah walaupun hutang Anda sudah bertumpuk?
Apabila Anda menjawab “ya†paling sedikit lima pertanyaan di atas, bisa jadi Anda sudah mulai terjangkit virus “overspendingâ€. Bila penyakit ini sudah kronis, akan sangat sulit untuk dapat mengobatinya.
Hal ini sangat berkaitan dengan kebiasaan yang Anda lakukan sehari-hari. Untuk mengubahnya dibutuhkan tekad dan keuletan agar keluar dari kebiasaan buruk belanja tanpa kontrol.
Untuk itulah kami menawarkan satu tindakan praktis yang sebaiknya dilakukan, yaitu menabung secara sistematis. Bagaimana caranya?
Selama ini, pola menabung yang umum dilakukan adalah dengan menabung dari sisa belanja bulanan keluarga. sudah tidak zamannya lagi melakukan pola itu. Mulai sekarang kami menawarkan pola menabung yang baru dan lebih efektif, yaitu dengan membayar untuk diri Anda sendiri (menabung) diawal setiap mendapatkan penghasilan bulanan.
Bila dipelajari, Anda membayar orang lain terlebih dahulu bukannya diri Anda sendiri. Anda membayar tukang roti bila Anda membeli roti, Anda membayar tukang potong rambut langganan Anda apabila selesai menata rambut Anda. tapi pertanyaannya, kapan Anda membayar untuk diri Anda sendiri?
Jadi sudah sebaiknyalah Anda membayar untuk diri Anda sendiri sebelum Anda membayar untuk orang lain. Jangan menabung setelah Anda menggunakan pendapatan selama sebulan atau apa yang tersisa, tapi Anda harus menyisihkannya dimuka.
Kami menganjurkan sebagai awal, Anda menabung 10% dari pendapatan regular bulanan. 10% dari pendapatan tidak akan merubah gaya hidup yang Anda jalani. Dengan 10% yang Anda sisihkan, Anda akan membangun sebuah kapital yang pada akhirnya memberikan penghasilan kepada Anda. Tapi dengan satu syarat mutlak yang harus dipegang, jangan pernah mengambil dari dana yang Anda sisihkan sebesar 10% setiap bulannya untuk masa depan.
Demikianlah hal-hal berkaitan dengan pola menabung yang bijak yang bisa Anda lakukan dan praktekan dalam keuangan keluarga. Semoga ulasan singkat ini membantu Anda dalam membangun kebiasaan menabung untuk mencapai kesejahteraan yang didambakan.
Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.

June 26th, 2008 at 10:36 am
Kendala lain dalam menabung adalah “Kejahatan” perbankan. Selama ini jika kita menabung maka akan dikenai biaya administrasi pengelolaan rekening oleh bank. Saya sendiri tidak tahu untuk apa biaya pengelolaan rekening itu. Menurut saya, ini adalah perilaku pemburu rente (Rent Seeking) dari bank. Akibat biaya administrasi itu maka uang kita akan habis dengan sendirinya jika tidak ditambah. Ini berbeda ketika saya kecil ada TABANAS dan TASKA yang meskipun uang tabungan saya tidak saya tambah tetapi tidak akan habis terpotong biaya administrasi. Bagaimana tanggapan anda?
January 6th, 2009 at 5:09 pm
Kl tidak salah menabung, tidak harus berupa rekening tabungan biasa…Mungkin bisa menggunakan cara auto debit yang di-lock 1 tahun atau sesuai dengan keinginan kita, potongan lebih kecil dari bunga yg diberikan…..
Atau bisa juga dg cara yang sekarang dianggap out of date yaitu… celengan dari plastik atau tanah liat, yang tidak bisa diambil tanpa memecah… dengan begitu, tidak akan ada potongan…
Ini opini dari saya, dan menabung adalah resolusi tahun 2009… Semangat….!!!!!