Melek Finansial Penting buat Anak
SEORANG teman pernah bercerita, ketika dia akan berangkat kerja, anaknya menangis tidak mau ditinggal. “Kalau ibu tidak kerja, ibu tidak mendapat uang. Kita tidak bisa membeli susu buat kamu,” bujuk sang ibu.
TAPI apa jawaban si anak? “Ibu enggak boleh kerja. Kalau mau beli susu, uangnya ambil saja di ATM,” tukas si anak.
Lain lagi cerita Seline (4). Ketika ikut mamanya ke pasar swalayan, dia mengambil makanan dan mainan sebanyak yang diinginkannya. Saat mamanya melarang, Seline menangis keras hingga menjadi perhatian orang di pasar swalayan itu.
Kedua contoh di atas merupakan contoh kecil yang menunjukkan pendidikan finansial atau “melek finansial” sudah harus diajarkan sejak anak masih kecil. Melek finansial bisa menumbuhkan disiplin anak dan membantunya mengelola uang yang tepat kelak.
“Kecerdasan akademik tidak menjamin seseorang bisa meraih standar kehidupan yang diinginkan. Banyak orang yang sukses secara akademis namun kurang berhasil dari segi finansial,” kata Godo Tjahjono, Asisten Wakil Direktur Sun Life Financial Indonesia dalam seminar “Mempersiapkan Kesejahteraan Finansial untuk Anak”, pekan lalu.
Dalam mengajar melek finansial tidak bisa dilepaskan dari faktor orangtua sebagai teladan. Orangtua harus memberikan contoh dulu sebelum mengharapkan anak mampu memiliki kecerdasan dan keterampilan finansial yang baik.
Ada beberapa aspek yang harus diajarkan orangtua pada anak, yakni uang, tabungan dan investasi, kekayaan, utang, kemapanan, dan ketidakpastian.
Uang. Pada awalnya uang diajarkan sebagai alat tukar. Anak usia tiga tahun sudah mulai mengenal konsep jual beli. Mereka bisa menukarkan uang dengan berbagai benda yang mereka inginkan, seperti mainan, makanan, dan minuman.
“Sebelum pergi ke pasar swalayan, orangtua menanyakan dulu pada anak, apa saja yang ingin dibeli oleh anak. Misalnya, anak ingin membeli keripik dan coklat yang nilainya kira-kira Rp 5.000, maka berilah anak uang Rp 5.000. Biarkan anak membawa dan membayar sendiri belanjaannya. Jika apa yang diinginkan lebih besar dari pada Rp 5.000, mintalah anak untuk mengurangi belanjaannya sehingga uang Rp 5.000 itu cukup. Lakukan ini berulang-ulang setiap ada kesempatan hingga anak mengerti konsep uang sebagai alat tukar,” kata Godo.
Yang penting, jangan biasakan anak mengambil apa yang ia inginkan sesuka hatinya dan membiarkan orangtuanya membayar semuanya. Hal ini tidak mengajarkan tanggung jawab dan belajar menahan keinginan hingga uangnya cukup. Ingat, konsumen yang baik berarti tidak terjebak mengonsumsi yang mengada- ada. Lakukan konsumsi dengan bijak.
Memasuki usia sekolah, mulai dikenalkan bahwa uang dapat disisihkan untuk tabungan dan disumbangkan. Pada usia ini anak mulai diajarkan bagaimana mengelola uang. Uang saku rutin dapat diberikan, misalnya dimulai dari harian (tingkat SD), mingguan (SLTP), kemudian bulanan (SMU).
“Ajak anak berpikir dua kali saat akan membelanjakan uang. Apakah ia benar-benar membutuhkannya atau sekadar keinginan sesaat,” tegas Godo.
Tidak ada salahnya orangtua mengajak anak ke bank dan menyaksikan transaksi menabung di sana. Beri juga pengertian bahwa ATM adalah tempat menitipkan uang, bukan mesin penghasil uang yang membuat uang ayah dan ibu tidak pernah habis.
Tabungan dan Investasi. Menabung berarti mengumpulkan uang untuk suatu tujuan tertentu dalam kurun waktu tertentu. Menabung berkaitan erat dengan kedisiplinan. Sebelum usia sekolah, celengan bisa dijadikan sarana latihan. Setelah usia sekolah, biasakanlah untuk memberikan target tabungan dalam jangka waktu tertentu sehingga mengisi tabungan menjadi rutin.
“Menabung secara insidental akan membuat anak kurang memiliki tanggung jawab terhadap pencapaian keinginannya. Ajarkan prinsip bahwa jumlah uang yang bisa disimpan lebih penting dari pada jumlah uang yang bisa didapat,” kata Godo.
Investasi berarti mengharapkan hasil atau keuntungan dari pokok yang ditanamkan. Ketika anak menginjak usia remaja, dia bisa diajak berpikir bahwa uang yang dimilikinya bisa digunakan untuk sesuatu yang memberikan keuntungan. Katakan juga kalau setiap investasi mempunyai risiko. Namun jangan buat anak menjadi antirisiko, tetapi ajaklah dia memperhitungkan risiko. Contoh yang paling mudah adalah menyewakan komik yang dibelinya. Risikonya, tidak ada yang pinjam atau komik hilang.
Kekayaan. Pengertian kekayaan yang diberikan pada anak adalah dengan kepemilikan. Orangtua memiliki sebuah barang karena membutuhkan. Misalnya, rumah untuk tempat tinggal, mobil untuk sarana transportasi.
“Contohnya jika orangtua ingin memberikan anak sebuah telepon selular, sebaiknya yang diberikan bukanlah sebuah telepon selular, tetapi sebuah tanggung jawab. Katakan, jika anak tidak bisa bertanggung jawab dengan telepon selular itu, orangtua bisa mengambilnya kembali,” kata Godo.
Utang. Utang dapat diajarkan sebagai pinjaman atau dengan pengertian menyewa, namun menuntut tanggung jawab. Ketidakmampuan mengelola utang mengarahkan seseorang pada perangkap utang. Orangtua tidak perlu mengatakan bahwa meminjam itu buruk. Misalnya menyewa di rental video bukanlah hal yang buruk, tetapi tindakan yang ekonomis.
Saat anak sudah lulus SMU, pengertian mengenai utang dapat dijelaskan lebih kompleks. Dia boleh berutang atau membeli dengan cara mencicil pada dua hal, yakni untuk barang (aset) yang nilainya naik seperti rumah dan pada barang yang produktif.
Kemapanan. Apakah kekayaan sama dengan kemapanan? Jawabnya tidak. Kekayaan adalah apa yang dimiliki seseorang saat ini. Sedangkan kemapanan adalah kemampuan seseorang untuk membiayai semua kebutuhannya sesuai dengan standar hidupnya, tanpa tergantung dari pemberian orang lain, dalam jangka waktu yang panjang, baik pada saat ia masih produktif hingga saat ia sudah tidak produktif lagi.
Banyak orang gagal melakukan konversi kekayaan menjadi kemapanan karena tidak memiliki pengetahuan finansial yang memadai. “Ajarkan dan arahkan anak menuju kemapanan bukan semata-mata kekayaan. Mengejar kekayaan tanpa memahami arti kemapanan dapat membawa seseorang pada upaya membabi buta mengumpulkan harta dengan berbagai cara, misalnya korupsi,” tukas Godo.
Ketidakpastian. Apakah anak harus dijaga selalu berada dalam kepastian finansial? Ya, pada saat ia belum waktunya mandiri sepenuhnya dan tidak bila anak sudah waktunya mandiri. Harus ada persiapan untuk keduanya. Pastikan biaya hidup dan biaya sekolah anak tersedia hingga ia lulus pada waktunya. Namun persiapkan ia menghadapi ketidakpastian setelah ia lepas dari tanggung jawab orangtua.
Caranya, ketika anak sudah remaja, bicarakan masalah keuangan secara terbuka. Berapa penghasilan keluarga, berapa yang harus dibayarkan untuk berbagai macam keperluan, dan biaya tak terduga. Biarkan anak berlatih mendapatkan uang saku sendiri. Berikan pengertian, di dunia tidak ada suatu pekerjaan yang menjamin kepastian finansial bagi seseorang seumur hidup. Tanamkan juga bahwa kecerdasan dan keterampilan finansial adalah modal penting untuk bertahan dalam ketidakpastian. (ARN)
Dikutip dari Kompas edisi Minggu, 30 Maret 2003.
