Kunci Pengelolaan Keuangan Adalah Budgeting

Saya seringkali mendapatkan email yang isinya kurang lebih seperti ini:

“Pak David, saya ingin sekali berinvestasi seperti yang Anda sebutkan dalam artikel Anda. Tetapi setiap bulan seluruh pendapatan saya habis hanya untuk berbelanja. Bagaimana caranya agar saya dapat menyisakan sebagaian uang saya untuk investasi?”

Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang bagus sekali. Pertanyaan ini mewakili bagian inti dari ilmu pengelolaan keuangan pribadi atau keluarga.

Apabila Anda pernah membaca Finansial Revolution, mungkin Anda masih ingat ada 3 tahap yang diajarkan oleh Tung Desem Waringin untuk mencapai finansial freedom:
1. Berbelanja lebih sedikit daripada pendapatan (gaji).
2. Menginvestasikan selisihnya.
3. Menginvestasikan kembali pokok dan bunga investasi untuk pertumbuhan bunga majemuk.
Disini kita lihat bahwa ilmu dasar untuk mencapai finansial freedom adalah Anda harus dapat mengatur pengeluaran Anda supaya selalu lebih kecil dari pada pendapatan. Setelah itu barulah Anda akan mendapatkan sejumlah uang untuk diinvestasikan. Bila Anda gagal di tahap 1, Anda tidak bisa melangkah ke tahap-tahap berikutnya.

Dalam ebook panduan “Keuangan Pribadi: Resep Rahasia Dibalik Kesuksesan Kaum Kaya” yang dijual hanya secara online di www.KeuanganPribadi.com saya menuliskan 3 langkah besar untuk menjadi kaya. Langkah-langkahnya kurang lebih sama dengan ajaran TDW, yaitu:

  1. Memotivasi diri Anda. Dalam langkah ini Anda membuang pikiran-pikiran negatif yang menghalangi Anda dari jalan menuju kekayaan. Ingat, Anda tidak dilahirkan untuk menjadi miskin. Meminjam kata dari Andrie Wongso, “Sukses adalah Hak Saya”.
  2. Memberdayakan Dana. Langkah ini adalah jawaban dari pertanyaan diatas. Dalam langkah ini Anda diajarkan untuk mengoptimalkan penggunaan uang Anda, sehingga pendapatan Anda akan menjadi lebih besar daripada pengeluaran. Disini Anda akan mendapatkan sisa uang yang dapat diinvestasikan untuk tahap berikutnya.
  3. Melipatgandakan Kekayaan. Disini saya menuliskan berbagai macam produk investasi dengan konsep compound interest (bunga majemuk). Konsep bunga majemuk adalah sama dengan langkah kedua dan langkah ketiga pada ajaran TDW, yaitu Anda menginvestasikan sejumlah uang. Kemudian Anda menginvestasikan ulang pokok dan bunga investasi Anda sebelumnya. Sehingga bunga yang Anda dapatkan dari investasi dapat turut berbunga. Dengan menggunakan konsep ini, maka Anda dapat melipatgandakan nilai investasi Anda.

Ilmu dasar dari pengelolaan keuangan pribadi atau keluarga terletak pada langkah kedua. Memberdayakan Dana. Dalam langkah inilah Anda mendapatkan jawaban dari pertanyaan di atas.

Apakah jawabannya? Kunci jawabannya adalah “Budgeting”. Dalam proses budgeting, Anda membuat anggaran pendapatan dan belanja Anda. Biasanya secara bulanan. Kemudian, Anda secara disiplin mengatur pengeluaran Anda pada bulan tersebut agar sesuai dengan anggaran Anda.

Contohnya, misalkan saja pendapatan Anda adalah dari gaji, yaitu Rp. 4.500.000,-


PENDAPATAN:
Gaji Rp. 4.500.000,-
==================================
TOTAL PENDAPATAN Rp. 4.500.000,-

Dari total pendapatan tersebut, bagikan jatah untuk pos-pos pengeluaran Anda. Ingat, Anda harus menyisakan minimal 10% dari total pendapatan Anda untuk TABUNGAN. Tabungan inilah yang nantinya akan digunakan untuk berinvestasi.

BELANJA
Makanan/Kebutuhan Harian Rp. 1.500.000,-
Pakaian Rp. 300.000,-
Pendidikan Rp. 500.000,-
Kesehatan Rp. 300.000,-
Rekreasi Rp. 500.000,-
Transportasi Rp. 300.000,-
Asuransi Rp. 250.000,-
Tabungan Rp. 450.000,-
Pembayaran Kredit Rp. 500.000,-
Lain-lain Rp. 400.000.-
=========================================
TOTAL BELANJA Rp. 4.500.000,-

Setelah Anda mengatur anggaran Anda, maka jalanilah secara disiplin bulan tersebut agar sesuai dengan anggaran. Apabila Anda menjatahkan pos pengeluaran untuk pakaian sebesar Rp. 300.000,-, maka Anda harus konsisten dalam berbelanja. Dalam memilih pakaian, Anda tidak boleh membeli yang lebih mahal dari secara total Rp. 300.000,-. Dan apabila Anda sudah membelanjakan seluruh jatah pakaian Anda, maka Anda sudah tidak boleh membeli pakaian lagi pada bulan yang sama. Begitu juga untuk pos-pos pengeluaran lainnya.

2 Responses to “Kunci Pengelolaan Keuangan Adalah Budgeting”

  1. Candra Apriadi Says:

    Hal-hal seperti itu memang umum, tapi aplikasinya cukup sulit karena umumnya orang sulit membedakan pengeluarang wajib (penting) atau tidak wajib (tidak penting).

    Mungkin hal pertama yang harus kita pahami adalah memahami hakikat uang, bahwa uang bukanlah media untuk memberikan kesenangan. Selama kita punya pikiran bahwa uang adalah MEDIA kebahagiaan, maka selama itu pulalah kita akan TERUS berpikir untuk menghabiskan uang (selama sedang memegang uang).

    Memahami bagaimana pandangan psikologis kita yang seharusnya terhadap uang adalah hal penting jika kita ingin menjadi kaya (semua kebutuhan tercukupi).

    Salah satu pendapat saya, diantaranya : Kita perlu memiliki pandangan terhadap uang bahwa uang sifatnya seperti air. Sebagaimana air yang wajib dikonsumsi sehari-hari, maka dia (uang) perlu dikelompokkan penggunaannya (dalam bahasa Anda adalah Budgeting). Jadi kita perlu mengenal kebutuhan wajib kita seperti apa saja, ex: mandi, minum, or memasak. Di setiap kelompok keperluan (mandi, nyuci, minum dll), kita perlu mengira-ngira berapa galon yang boleh kita habiskan untuk masing-masing.

    Jadi, maksud saya, SEBELUM melakukan budjeting kta perlu mengenal apa saja yang wajib di budgeting dan apa saja (kebiasaan) yang perlu kita TINGGALKAN (bila perlu, minta pendapat orang lain. Ini perlu karena kita cenderung berpikir semuanya pengeluaran penting. Pandangan orang lain dapat membantu keegoisan kita). Setelah itu langkah selanjutnya adalah mengira-ngira berapa dana yang layak untuk dikeluarkan pada masing-masing kelompok.

    Menurut pengalaman saya, kunci sukses pengelolaan keuangan ada pada niat dan konsisten pada tujuan. selama kedua hal tersebut kuat kita jalankan, Insyaallah finansial yang memuaskan akan kita dapatkan.

    Wallauhalam bi sohab, moga sukses buat yang baca ^_^

  2. choky pramuditya Says:

    saya spakat dg mas.candra. hkususnya tentang niat dan konsistensi. tapi ada hal yang sering kita lupakan. yaitu, bila analogi uang itu seperti air. maka terkadang, sering, malah wajib..kalo dalam penggunaan air ada yang tumpah (inefesiensi-inefektif). jadi menurut saya. pengukuran”air tumpah tak terencana” itu juga harus dicermati setiap kita mengadakan evaluasi keuangan. menurut pengalaman saya. air tumpah tak terencana itu, lebih sering disebabkan oleh “hasrat yang menemukan aktualisasinya”. maka dari itu, selain managemen keuangan. hal yang terpenting yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah “managemen hasrat”. ingat, hasrat itu sebagiannya adalah motivasi menuju “meraih uang lebih besar”..

Leave a Reply