Investasi Waran: Hak Membeli Saham

Bagi Anda yang sudah melakukan investasi di Bursa Efek, dalam bentuk investasi langsung—bermain saham—atau investasi tidak langsung—sarana investasi Reksadana—pasti membaca lembaran ekonomi atau keuangan di berbagai media cetak yang mencantumkan data transaksi di Bursa Efek kita. Data mengenai harga saham, obligasi, indeks, reksadana, kontrak berjangka dan lainnya tersedia disini. Pastinya Anda juga pernah melihat kolom transaksi yang berkaitan dengan waran. Bagi mereka yang mengerti, data tersebut mungkin saja bermanfaat. Tapi bagi mereka yang awam akan investasi waran pasti melewatkan informasi tersebut. Atau malah timbul pertanyaan, “Apa sih yang disebut waran itu? Bagaimana seluk beluk investasi waran? Dan apa sih untung ruginya?

Berkenaan dengan pertanyaan di atas, kami mencoba memberikan sedikit informasi berkenaan dengan investasi waran sebagai alternatif. Semoga informasi kami kali ini bermanfaat dan menambah wawasan Anda seputar investasi.

Apa Itu Waran?

Pada dasarnya waran tidaklah berbeda dengan options (opsi) yang beberapa waktu lalu sempat kami ulas. Untuk mengingatkan, Opsi adalah kontrak yang memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pemegang kontrak itu untuk membeli (call options>) atau menjual (put options) suatu aset tertentu dengan harga tertentu (strike price/exercise price atau harga patokan / tebus) dalam jangka waktu tertentu.

Waran ini adalah efek yang sebenarnya merupakan sebuah call options pada saham. Call options adalah kontrak yang memberikan hak (bukan suatu kewajiban) kepada pemiliknya untuk membeli sejumlah aset dasar dengan harga patokan tertentu sebelum ataupun saat kontrak jatuh tempo. Dalam hal waran, aset dasarnya hanyalah saham.

Jadi singkatnya waran adalah hak untuk membeli suatu saham pada harga patokan atau exercise price yang telah ditentukan dan pada waktu yang ditetapkan pula. Bila waran tersebut memiliki exercise price Rp.2.000, artinya pemegang waran tersebut memilik hak untuk membeli saham perusahaan yang menerbitkan waran di harga Rp 2.000 pada saat jatuh tempo, tak masalah berapa harga saham tersebut saat itu di bursa.

Bilamana investor meng-exercise warannya, maka perusahaan penerbit harus mengeluarkan saham baru, sedangkan pada opsi, saham yang diperdagangkan adalah saham yang telah beredar di bursa.

Waran sering kali digunakan sebagai “iming-iming” untuk investor bila perusahaan akan menerbitkan obligasi. Waran diberikan sebagai daya tarik yang diberikan agar investor mau membeli obligasi dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah dari tingkat suku bunga pasar.

Dengan menerbitkan obligasi bersama-sama dengan waran perusahaan ingin mengurangi biaya yang harus dikeluarkan dalam bentuk bunga obligasi yang harus dibayarkan kepada investor secara regular.

Jadi pada intinya, waran yang melekat pada penerbitan obligasi atau saham bertujuan agar investor tertarik untuk membeli sekuritas atau efek yang diterbitkan oleh perusahaan.

Waran diperjualbelikan berdasarkan nilai intrinsiknya

Walau waran merupakan bagian dari penerbitan saham atau obligasi, sebenarnya waran dapat diperjualbelikan secara terpisah selama waktu tertentu. Hak untuk membeli saham pada waran dapat di’exeercise’ saat waran jatuh tempo atau pada periode tertentu setelah waran diterbitkan.

Sebagai contoh, misalkan waran PT. Z yang diperdagangkan di bursa memiliki harga patokan atau exercise price sebesar Rp 1.000 dan akan jatuh tempo enam bulan yang akan datang. Kondisi ini dapat diartikan bahwa pemegang waran memiliki hak untuk membeli satu lembar saham PT. Z seharga Rp 1.000, enam bulan dari sekarang.

Bilamana selema enam bulan harga PT. Z naik menjadi Rp 1.200, dalam situasi ini waran dikatakan “in the money” atau dengan kata lain waran tersebut memiliki nilai intrinsik sebesar Rp 200 (Rp 1.200 – Rp 1.000). Logisnya, jika investor mengeksekusi haknya dengan membeli saham PT. Z maka ia akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 200 per lembar sahamnya (beli di harga Rp 1.000 dan langsung menjualnya di Bursa dengan harga Rp 1.200). Nilai intrinsik inilah yang dijadikan patokan dalam menentukan harga waran.

Tetapi bagaima bila harga saham PT. Z di Bursa ternyata turun menjadi Rp 900. pada kondisi ini harga waran tersebut adalah nol dan bukanlah –(minus) Rp 100. hal ini dikarenakan, sebuah waran merupakan hak bukannya kewajiban bagi pemegangnya, jadi tidak ada keharusan untuk menggunakan hak tersebut pada saat jatuh tempo. Jadi nilai intrinsic sebuah waran paling banter adalah nol tidak pernah akan negatif.

Perlu juga disimak bahwa harga waran di bursa banyak dipengaruhi oleh factor lain selain perubahan harga aset dasarnya. Semakin tinggi harga saham dibursa dibandingkan dengan exercise price-nya akan semakin tinggi harga sebuah waran. Sebaliknya semakin rendah harga saham akan semakin rendah pula harga warannya.

Untung Rugi Investasi Di Waran

Untuk menyampaikan ulasan mengenai hal ini kami akan menggunakan contoh agar lebih mudah untuk dimengerti. Dari contoh diatas, misalkan waran PT. Z memiliki exercise price sebesar Rp 1.000 dan harga waran Z tersebut saat ini di Bursa adalah Rp 100. Waran Z ini akan jatuh tempo 6 bulan yang akan datang.

Misalkan harga saham PT. Z di Bursa saat ini adalah Rp 1.100 per lembar, artinya jika Anda memiliki waran PT. Z dengan harga premi Rp 100, sebetulnya Anda menguasai saham yang harganya berlipat ganda (Rp 1.100). Nah inilah karakter penting dari sebuah waran alias call options (hak untuk membeli aset), yaitu adanya “power of leverage” yang melekat pada sebuah waran.

Melanjutkan contoh di atas, misalkan enam bulan kemudian saat waran PT. Z jatuh tempo, harga saham PT. Z melejit ke level Rp.1500 per lembar, tentunya Anda akan menggunakan hak Anda karena Anda dapat membeli saham PT. Z diharga Rp 1.000 (exercise price) per lembar dan menjualnya lagi dibursa dengan harga Rp 1.700.

Diatas kertas, Anda akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 400 [Rp 1.500 – Rp 1.000 – Rp 100(premi)] per saham yang sama dengan tingkat keuntungan sebesar 400% (Rp 400/100 x 100%). Semakin tinggi harga saham di Bursa saat waran jatuh tempo akan semakin besar keuntungan yang bisa Anda peroleh.

Tetapi jika ternyata saat waran jatuh tempo, harga saham PT. Z di Bursa turun menjadi Rp 500, tentunya dalam situasi seperti ini Anda tidak menggunakan hak Anda untuk membeli saham PT. Z seharga Rp 1.000 dan Anda hanya ketiban rugi sebesar Rp 100 (premi yang telah dibayarkan di awala untuk membeli waran).

Jadi kalau dilihat dari contoh perubahan harga ini, potensi untung rugi pada sebuah waran tidaklah semetris seperti pada kontrak berjangka. Potensi yang tidak simetris ini juga merupakan karakteristik penting dari sebuah waran. Kesimpulannya, berinvestasi via waran, memberikan potensi keuntungan yang tidak terbatas tapi dengan potensi kerugian yang terbatas yaitu hanya sebesar premi waran diawal investasi. Bagaimana sekarang Anda tertarik?

Faktor-faktor Berpengaruh

Bagi mereka yang mulai tertarik untuk berspekulasi via waran atau bagi mereka yang ingin sekedar tau faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan harga waran, ikuti ulasan berikut ini. Faktor-faktor ini sangat membantu untuk mengambil keputusan kapan waktu yang tepat untuk membeli dan menjual waran sehingga bisa membukukan keuntungan (buy low sell high).

Oleh karena waran merupakan call options atau hak untuk membeli suatu aset, maka harga sebuah waran sangat dipengaruhi oleh harga saham yang menjadi aset dasarnya. Singkatnya, harga waran akan memiliki batas terendah dan tertinggi. Batas harga tertinggi dari sebuah waran adalah sama dengan harga saham yang menjadi aset dasarnya. Logikanya, tidak ada orang yang mau membeli hak untuk membeli saham dengan harga yang lebih tinggi dari harga sahamnya sendiri.

Harga terendah dari sebuah waran adalah perbedaan antara harga sahamnya di Bursa dengan exercise price-nya, dengan catatan perbedaan tersebut adalah positif. Jika perbedaannya negatif maka harga sebuah waran haruslah sama dengan nol. Harga terendah inilah yang disebut dengan nilai intrinsik sebuah waran.

Semakin tinggi harga saham dibursa dibandingkan dengan exercise price-nya akan semakin tinggi harga sebuah waran karena semakin tinggi nilai intrinsiknya. Tetapi pada kenyataannya harga waran akan lebih besar dari nilia intrinsiknya.

Jadi untuk melakukan aksi spekulatif untuk meraup untung dengan berjual beli waran, selain mengetahui pergerakan nilai intrinsiknya tentunya juga sangat penting sekali untuk mengetahui faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.

Untuk memudahkan menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi harga waran, kita menganggap nilai intrinsik sebuah waran adalah konstan dan jika satu factor dibahas dianggap faktor lain tidak berubah.

Pertama adalah jangka waktu jatuh tempo waran. Semakin panjang (pendek) umur sebuah waran akan semakin tinggi (rendah) nilai spekulatifnya tentunya juga harga waran tersebut.

Kedua, volatilitas dari harga saham yang menjadi aset dasar waran. Semakin tinggi (rendah) volatilitas harga sahamnya akan semakin tinggi (rendah) nilai spekulatifnya dan akan semakin tinggi (rendah) harga waran tersebut.

Ketiga adalah tingkat suku bunga bebas risiko. Kembali ke contoh PT. Z, dimana Anda hanya cukup mengelurkan Rp.100 untuk menguasai saham dengan nilai Rp.1500. jadi sebenarnya Anda memiliki leverage (pinjaman) sebesar Rp 1.400 (Rp 1.500- Rp 100). logisnya Rp 1.400 ini bisa ditabung pada tingkat bunga pasar yang bebas risiko.

Jika tingkat suku bunga semakin tinggi (rendah), imbal hasil tabungan Anda juga akan mengalami kenaikan (penurunan). Karena itu semakin tinggi tingkat bunga bebas risiko, maka akan semakin tinggi nilai spekulatif sebuah waran dan tentunya akan mempengaruhi harga warannya, menjadi semakin tinggi.

Dalam kenyataannya semua factor ini berinteraksi membentuk sebuah harga waran. Walau terlihat berspekulasi waran tidaklah mahal, tetapi risikonya tidaklah kecil. Jadi untuk berspekulasi via waran dibutuhkan lebih dari sekedar ulasan diatas. Ulasan ini hanya bermasuk untuk menambah wawasan dan informasi mengenai alterntif investasi. semoga bermanfaat.n

Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.

Leave a Reply