Enam Masalah Utama Keuangan Keluarga yang Harus Dihindari (1)

Dalam setiap pembahasan kami selalu memberikan tips yang dapat Anda dan keluarga coba lakukan. Dengan melakukannya, kami berharap keuangan keluarga yang tadinya tidak teratur rapi mungkin bisa menjadi lebih baik dan fokus terhadap tujuan keuangan keluarga yang Anda miliki.

Kami sudah membahas berbagai isu seputar keuangan keluarga dari langkah-langkah jitu untuk mengatur atau mengelola keuangan keluarga sampai perencanaan investasi jangka panjang guna mencapai tujuan keuangan. Dengan ini kami mencoba untuk memberikan wawasan baru berkenaan dengan keuangan pribadi. Karena permasalah keuangan pribadi sering kali dilupakan dan diabaikan.

Padahal bila melihat keuangan sebuah perusahaan, pola perencanaan yang dilakukan di perusahaan hampir sama dengan perencanaan yang seharusnya Anda lakukan dengan keuangan keluarga Anda. Dengan keterbatasan sumber pendanaan, perusahaan berusaha untuk dapat mecapai apa yang dicanangkan atau tujuan jangka panjang dari perusahaan. Keuangan keluarga juga demikian. Penghasilan bulanan yang Anda dapat setiap bulan secara regular sudah seharusnya Anda alokasikan dengan efisien untuk dapat mencapai semua tujuan yang Anda dan keluarga miliki.

Dalam kaitannya dengan keputusan atau cara pandang keuangan yang Anda lakukan selama ini, kami mencoba memberikan masukan dalam beberapa keputusan keuangan yang sebaiknya Anda hindari. Karena menurut hemat kami, keputusan ini akan berdampak terhadap kestabilan keuangan keluarga Anda. Kami mengidentifikasi 6 (enam) masalah utama yang sebaiknya Anda hindari dalam permasalahan keuangan.

Perihal utang

Utang kartu kredit sangat membahayakan kestabilan keuangan keluarga Anda. Mengapa? Memiliki utang kartu kredit akan membuat Anda stres. Mengetahui bahwa Anda berhutang kepada sebuah perusahaan dan Anda dibebani bunga yang bisa mencapai 39 persen/tahun. Ketakutan Anda tidak dapat melunasi utang tersebut akan selalu menghantui Anda siang dan malam.

Kartu kredit sudah merupakan alat bantu pembayaran yang lazim di sebagian masyarakat kita, bahkan kecenderungannya mereka melihat bahwa kartu kredit sudah merupakan gaya hidup. Ia bahkan memberikan banyak peluang tambahan bagi konsumen pengguna untuk mendapatkan kemudahan, baik dalam bertransaksi maupun skema pembayaran yang bisa dicicil.

Salah satu kemudahan dari kartu kredit adalah alat untuk mengambil uang tunai melalui ATM. Tapi Anda harus ingat, mengambil uang tunai dengan kartu kredit melalui ATM sangat membebani Anda. Bila Anda mengambil tunai melalui ATM dengan kartu kredit maka:

  • Pada saat mengambil uang tunai melalui ATM, maka secara langsung dikenakan fee pengambilan yang besarannya sekitar 30 sampai 40 ribu.
  • Bunga bulanan secara langsung akan berlaku, tidak ada masa tenggang atau grace period pada transaksi melalui ATM.
  • Bunga yang dikenakan lebih tinggi dari bunga biasa yang dibebankan dalam tagihan pembelanjaan biasa, paling tidak 4 persen/bulan, setahun 48 persen.

Jadi bila ditinjau dari hal-hal tersebut diatas maka kami tidak menganjurkan untuk mengambil uang tunai melalui ATM dengan kartu kredit. Karena selain beban administratif yang tinggi, bunga yang dibebani kepada Anda tinggi. Akan tetapi kemudahan ini tentu saja dapat digunakan terutama di saat keadaan sangat darurat.

Jangan terjebak dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh lembaga pengeluar kartu kredit. Sebaiknya sebagai konsumen pemegang kartu kredit Anda harus waspada dan hati-hati. Karena terkadang kemudahan dapat mencelakakan.

Berkaitan dengan penggunaan kertu kredit, kami menyarankan untuk menggunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran keperluan sehari-hari atau biaya bulanan yang sudah dianggarkan. Sehingga bila tagihan bulanan datang, Anda dapat langsung membayar lunas. Karena pengeluaran dengan kartu kredit yang Anda lakukan sudah masuk dalam anggaran bulanan yang Anda dan keluarga tetapkan.

Kami juga menyarankan agar menggunakan kartu kredit untuk keperluan darurat. Dengan memiliki kartu kredit kita memiliki plafon utang yang tersedia langsung untuk kebutuhan darurat. Apabila kita terpaksa menggunakannya maka yang harus selalu diingat adalah kewajiban membayar bunganya saat mencicil setiap bulan.

Berinvestasi dan Risiko Tinggi

Banyak sekali bermunculan tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan yang berlipat ganda melalui iklan-iklan di berbagai media masa. Banyak masyarakat yang tergiur dengan tawaran investasi jenis ini, keuntungan berlipat dalam waktu singkat. Mengapa? Karena melihat keadaan perekonomian Indonesia yang tidak kunjung pulih dan sulitnya mendapatkan penghasilan guna mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Jalan singkatlah yang dipilih. Kami sebagai perencana keuangan keluarga sangat mengharapkan agar Anda sebagai konsumen waspada akan hal ini, teliti sebelum membeli. Karena banyak dari tawaran itu hanya berupa pepesan kosong. Mengharapkan keuntungan berlipat ganda dalam waktu singkat, yang didapat hanyalah kerugian dan dapat mengakibatkan kerusakan tatanan keuangan keluarga yang sudah terbangun.

Masyarakat kebanyakan percaya bahwa untuk mencapai kesusksesan dalam berinvestasi sangat bergantung dengan kemampuan Anda untuk menginvestasikan dalam jumlah besar dan kemampuan Anda untuk mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat.

Sebenarnya kedua hal ini tidak sepenuhnya benar. Untuk mencapai kekayaan dalam arti keuangan memerlukan waktu dan ketekutan untuk mencapainya. Pola investasi “dollar cost averaging” merupakan solusinya. Yaitu dengan menyisihkan sebagian penghasilan bulanan selama jangka waktu yang Anda tentukan untuk mencapai tujuan yang diimpikan.

Prinsip dasar dari investasi adalah semakin tinggi tingkat pengembalian suatu produk investasi akan diikuti dengan risiko yang tinggi pula. Jadi dapat diyakini bahwa tidak ada investasi, apalagi dengan tingkat pengembalian yang tinggi tapi tanpa resiko. Benar tidak? Tapi mengapa banyak investor maupun individu yang terjerumus ke dalam investasi jenis ini? Banyak sebab yang bisa menjelaskan hal ini. Mungkin saja individu tersebut tidak mengetahui atau mempelajari perihal investasi yang akan dibelinya. Atau mungkin saja mereka terbuai dengan janji-janji yang diberikan.

Dalam keadaan ekonomi yang semrawaut seperti sekarang ini, membuat banyak investor individu tergiur karenanya. Keuntungan tinggi yang diharapkan, kerugian atau kehilangan yang didapat.

Menunda-nunda Menabung

Hampir setiap orang mengeluhkan besarnya biaya pendidikan, apalagi bila dibayangkan 15 tahun mendatang saat anak kita mulai memerlukannya. Ada beberapa hal yang kami identifikasi sebagai alasan-alasan yang menyebabkan mengapa menyiapkan dana pendidikan anak menjadi sangat penting:
Tingginya biaya pendidikan saat ini. Seorang anak balita yang masih duduk di taman kanak-kanakpun, telah cukup membebani arus keuangan keluarga, baik biaya bulanan, antar-jemput, kegiatan ekstraulikuler. Apalagi bila kita melihat jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi lagi, sebut saja perguruan tinggi atau universitas.

Sebuah perguruan tinggi swasta saat ini di Jakarta bisa menghabiskan biaya sekitar Rp 50 juta hingga lulus. Kenyataan di mana biaya pendidikan saat ini sangat mahal, memaksa kita untuk merencanakan secara matang dan berkesinambungan agar kita dapat menyekolahkan anak kita sampai jenjang perguruan tinggi.

Kenaikan biaya Sekolah dari tahun ke tahun. Selain mahalnya biaya pendidikan saat ini, biaya pendidikan di Indonesia selalu mengalami kenaikan setiap tahun. Sebagai illustrasi, bila biaya sampai lulus di perguruan tinggi saat ini berkisar Rp 50 juta (tulisan ini dibuat pada tahun 2003), maka di saat anak Anda masuk universitas 18 tahun lagi, maka biaya itu akan membengkak menjadi lebih dari Rp 250 juta. Kenaikan biaya ini bukan hanya terjadi di perguruan tinggi saja, akan tetapi jenjang pendidikan yang lebih rendah seperti TK, SD, SMP dan SMU juga mengalami kenaikan. Sebagai orang tua, kita harus siap menghadapi tingginya biaya pendidikan di masa datang.

Keterbatasan fisik atau masa kerja yang terbatas. Sebagian orang biasanya berusaha menunda merencanakan dan mempersiapkan dana pendidikan anak dengan alasan bahwa mereka merasa sehat dan masih tetap bisa bekerja sampai anak menyelesaikan pendidikan. Hal ini sangat berbahaya, karena. sebetulnya setiap orang memiliki risiko tidak bisa bekerja lagi karena suatu hal, misalnya sakit atau kecelakaan. Risiko ini menyebabkan terputusnya aliran arus masuk keuangan keluarga yang pada akhirnya merusak tatanan keuangan keluarga.

Untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek saja sangat sulit bagaimana dapat menabung untuk pendidikan anak?. Oleh karena itu kita perlu menyiapkan dana pendidikan anak sejak sekarang, sehingga apabila terjadi seuatu yang tidak diinginkan yang membuat kita tidak bisa bekerja lagi, dana itu telah tercukupi.

Kunci keberhasilan menyiapkan dana pendidikan sangat sederhana, mulailah mempersiapkannya dari sekarang dan melakukannya dengan konsisten selama jangka waktu yang dibutuhkan. Sekali lagi mulailah sekarang jangan menundanya, minggu depan, bulan depan apalagi tahun depan. Memulai lebih awal memberikan keuntungan dari besarnya dana yang harus disisihkan tiap bulan untuk mencapai total dana yang diinginkan.

Dalam contoh di bawah ini kami mencoba memberikan gambaran penundaan yang dilakukan dan kaitannya dengan investasi yang harus Anda lakukan untuk mencapai nilai tujuan keuangan yang telah ditetapkan. Sebut saja tujuan keuangan yang ingin Anda capai adalah menyiapkan biaya pendidikan anak Anda masuk kuliah (universitas). Anak Anda sekarang baru berusia 3 tahun. Anda masih memiliki waktu kurang lebih 15 tahun (saat anak Anda masuk kuliah) untuk menyiapkan biaya masuk kuliah dan selama di perkuliahan.

Bila biaya pendidikan diperkirakan sebesar Rp 200 juta pada 15 tahun mendatang, maka bila Anda memulainya sekarang, dengan melakukan investasi secara teratur setiap bulan dengan bunga investasi 15 persen per tahun maka Anda membutuhkan dana setiap bulan untuk diinvestasikan sekitar Rp 300.000-an. Sedangkan bila Anda menundanya sampai 5 tahun mendatang, dengan bunga investasi sama dan nilai yang ingin dicapai sama maka kebutuhan dana untuk investasikan akan membengkak hampir 3 kali lipat.

Bila menundanya 5 tahun untuk memulai maka Anda membutuhkan dana setiap bulan untuk diinvestasikan sekitar Rp.800.000-an. Bagaimana, apakah Anda masih ingin menundanya? Lakukanlah sekarang. Jangan Anda menundanya.

Untuk tiga permasalahan keuangan keluarga selanjutnya yang sebaiknya Anda hindari akan kami ulas dalam rubrik Eureka minggu depan.

Demikianlah uraian dari tiga keputusan keuangan yang dapat mengakibatkan kerusakan tatanan keuangan keluarga Anda. oleh karena itu kami sangat menganjurkan agar Anda dan keluarga mulai merencanakan keuangan keluarga sehingga Anda dapat mengambil keputusan terbaik berdasarkan keadaan dan kondisi keuangan Anda dan keluarga. Semoga uraian ini dapat membantu Anda.

Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.

Leave a Reply