Cari Uang Lewat Hobi

Memanjakan diri lewat hobi biasanya menghabiskan banyak uang. Tapi kalau kita benar-benar menekuni hobi, bukan enggak mungkin justru kita akan mendapatkan penghasilan tambahan.

Hobi apa pun pilihan kita biasanya memang butuh dana. Entah itu hobi yang berhubungan dengan olah- raga maupun seni. Apalagi kalau hobi kita di bidang otomotif, wah… enggak sedikit tuh uang yang kita keluarkan. Iya enggak?

Tapi sebenarnya hobi itu enggak selalu harus menghabiskan banyak uang. Buktinya banyak juga teman-teman kita yang justru dapat penghasilan dari hobi yang mereka tekuni. Randi dan Agi, misalnya. Walaupun belum bisa dibilang profesional, mereka sudah bisa menghasilkan uang lewat hobi fotografinya. Lalu ada Laire dan Woro yang sudah memetik keuntungan karena mereka hobi menulis.

Tentu saja keuntungan yang sekarang mereka raih enggak datang begitu saja. Ada proses yang memakan waktu cukup lama. Misalnya saja Laire. Pelajar kelas 3 SMA 1 Depok ini sudah senang menulis sejak masih SD. Awalnya Laire enggak berani memublikasikan cerpen-cerpennya karena merasa enggak ada yang istimewa. Paling-paling hanya memperlihatkan karya-karyanya itu kepada teman-teman dekatnya.

Ketika SMP ia malah lebih senang menggambar daripada bikin cerpen. ”Baru kelas satu SMU aku mulai nulis cerpen lagi. Terus aku mikir, kenapa enggak aku bikin novel saja. Kayaknya lebih enak saja. Aku, kan, senang menceritakan kehidupan sehari-hari, percakapan antarpersonal. Kalau cerpen, kan, titik beratnya harus jelas dan singkat banget,” jelas Laire panjang lebar.

Nah, begitu masuk SMA dengan semangat baru masuk sekolah dan punya banyak teman baru, pengalaman baru, Larie tergerak untuk bikin novel. Ayahnya yang juga penulis, Sitok Srengenge, memperlihatkan karya Larie kepada beberapa penulis senior tanpa menyebut itu karya Larie. Dan mereka yang membacanya memuji sambil bilang karya itu layak buat diterbitkan. Ya udah deh, Larie makin pede.

Setelah novel pertama, Nothing But Love diterbitkan, Larie jadi dapat banyak tawaran menulis, termasuk menulis cerpen. Walau sesungguhnya dia sendiri lebih senang menulis novel dibandingkan menulis cerpen. Buktinya, sekarang Larie baru saja merilis novel kedua yang dirilis bertepatan dengan hari ulang tahunnya tanggal 10 November.

Berkat hobi menulis cerita, Larie punya cukup tabungan lho. Karena dia paling enggak mendapat sekitar 10 persen dari setiap harga bukunya yang terjual. Lebih dari lumayan kan, kalau dihitung dari novel Nothing But Love yang sudah dicetak ulang sampai delapan kali itu?

Begitu juga dengan Woro, anak kelas 3 SMA 78 Jakarta. Novelnya yang berjudul Through Oklahoma sudah diterbitkan oleh Penerbit Gagas Media, Agustus lalu. Tak lama lagi ia bakal menerima penghasilan dari hobinya menulis cerita.

Hobi Fotografi

Selain menulis cerpen atau novel, fotografi juga termasuk hobi yang bisa menghasilkan uang. Coba saja lihat Randi, siswa SMA Al-Izhar Pondok Labu. Ia sudah sering mendapat job motret karena menekuni hobi fotografi. Honor pertamanya sebesar Rp 200.000 rupiah ia dapat waktu jadi koresponden majalah Gemari (majalah intern organisasi). Ia juga pernah mendapat job untuk membuat foto-foto dokumentasi kantor nyokapnya di Padang.

Awalnya memang hanya teman dekat dan keluarga yang meminta Randi untuk memotret sesuatu keinginan mereka. Lama- lama makin banyak orang yang menggunakan jasa Randi. Bisa ditebak, makin lama penghasilan Randi dari hobi motretnya ini pun makin bertambah.

Kayaknya cukup banyak deh teman-teman kita yang punya hobi seperti Randi. Soalnya saat ini enggak sedikit sih sekolah-sekolah yang punya ekskul fotografi. Coba saja tanya sama mereka apakah sudah menghasilkan uang atau belum. Kalau belum, mungkin ada yang salah dengan orangnya. Coba saja simak pengalaman Agi, anak SMA 87 Jakarta yang hobi banget sama fotografi.

Agi sejak kelas 5 SD sudah belajar motret dari bokapnya yang memang seorang fotografer. Pas SMP ia selalu mendapat tugas memotret setiap kali ada event di sekolah. ”Jabatan” ini selalu dipegangnya sampai ia SMA. Biasanya sih setiap kali dapat job motret, Agi bisa dapat untung Rp 20.000 sampai Rp 100.000. ”Waktu SMA, gue mendapat tugas mendokumentasikan kegiatan tur ke Anyer,” kenang Agi. ”Waktu itu dikasih uang Rp 200.000 buat cetak foto. Eh, enggak tahunya uangnya kurang karena gue lupa kasih tau kalau motretnya pakai kamera digital. Mau enggak mau gue minimalisis fotonya. Tapi, tetap aja gue nombok Rp 50.000 perak.” Tuh, kaan… gara-gara salah hitung, Agi enggak mendapatkan untung.

Masih cerita soal Agi, nih. Tahun lalu dia dikasih uang 350 ribu rupiah buat mendokumentasikan kegiatan MoS. Pas selesai foto-foto, uang itu disimpan di kantong celananya. ”Eh… pas mau cetak foto, enggak tahunya uangnya hilang.” Terpaksa deh Agi pinjam uang bokap untuk menggantikan uang yang hilang di tangannya sebesar 300.000 rupiah.

Meningkatkan kualitas

Kalau kita menekuni hobi tertentu, jangan hanya menjadikan hobi itu sebagai suatu kesenangan. Tapi kita juga perlu usaha bagaimana meningkatkan kualitas keterampilan kita di bidang tersebut. Jangan malas mencari informasi tentang hobi yang kita tekuni. Ikutlah kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan hobi kita.

Woro yang hobi menulis novel suatu ketika membaca iklan di Harian Kompas kalau ada lima penerbit yang bekerja sama untuk memberikan beasiswa untuk penulis. Dia tertarik untuk ikutan. Setelah lolos tes, ia pun ikutan workshop yang berlangsung selama tiga bulan. Selama workshop itu dia diajarkan berbagai teknis menulis. Di akhir workshop semua peserta harus membuat novel. Dari situ disaring lagi dan ada tujuh karya novel yang layak untuk diterbitkan termasuk karyanya Woro. Selain itu, ilmu menulisnya dia dapat juga dari Coaching cerpen kaWanku 2005. Tahu enggak dalam waktu yang bersamaan, dia ikutan dua pelatihan sekaligus.

”Setelah terpilih, aku masih harus memperbaiki lagi. Kelemahan aku itu di alurnya, banyak yang harus dilengkapi lagi. Apalagi novelku itu kan setting-nya luar negeri, sementara aku belum pernah ke sana. Jadi harus cari- cari bahan dari internet, majalah travelling, dan juga chatting,” jelas Woro, yang cerpennya pernah juga dimuat di majalah KaWanku.

Begitu juga dengan Randi. Ia enggak pernah bosan belajar dan berlatih untuk meningkatkan kualitas fotonya. Awalnya, Randi mengenal fotografi dari ayahnya. Kebetulan omnya juga seorang fotografer. Dari merekalah Randi mendapatkan banyak pengetahuan soal fotografi. ”Gue pernah diajarin bokap buat motret model, sekalian belajar lighting seadanya di studio rumah gue. Karena bokap enggak punya model, jadi gue ajak aja cewek gue buat jadi model. Untung aja dia mau. Jadi deh gue belajar cara motret seorang model plus belajar lighting.”

Randy juga banyak membaca buku-buku fotografi di perpustakaan omnya. ”Selain itu, gue belajar dari internet dan banyak nanya ke fotografer lain. Awalnya gue ikut Rally Foto di Bulungan Cup. Nah, dari situ gue banyak kenalan sama fotografer yang masih SMA juga.”

Saat ini Randy bisa dibilang total di fotografi. Berbagai kegiatan fotografi pernah ia ikuti. Terus pergi ke mana pun ia selalu bawa kamera. Jangankan ke luar negeri, ke sekolah aja dia selalu bawa kamera.

Ya, kalau sudah hobi memang harus gitu kali ya…. Agi yang juga belajar motret dari bokapnya enggak pernah bosan berlatih dan mencoba hal-hal baru demi meningkatkan kualitas karyanya. ”Jangan takut salah atau takut hasilnya jelek,” tegas Agi.

Betul tuh, Gi, pokoknya jepret aja. Tapi yang paling penting, ”Jangan sampai hobi kita mengganggu sekolah. Kegiatan fotografi gue enggak pernah mengganggu sekolah karena gue sudah atur semua kegiatan gue. Mulai dari belajar, fotografi, dan hobi- hobi gue yang lain,” kata Agi lagi.

Nah, kalau kita punya hobi, walaupun enggak sama dengan Agi, Randy, Woro, maupun Laire, mungkin saja bisa menghasilkan uang. Yang penting, jangan bosan untuk belajar, berlatih, baca buku, dan saling tukar pengalaman dengan teman-teman sehobi.

YORGI/ MUTI/ CHAIRUL Tim MUDA
Dikutip dari Kompas.com

Leave a Reply