BI: Waspadai Ketidakpastian Ekonomi Global
[JAKARTA] Bank Indonesia (BI) menempuh langkah yang lebih berhati-hati dalam menetapkan kebijakan moneter termasuk mempertahankan tingkat BI Rate di level 8,25 persen dalam rapat Dewan Gubernur yang berlangsung di Jakarta, Selasa (6/11). Langkah itu ditempuh dengan pertimbangan masih banyaknya ketidakpastian global yang menjadi ancaman perekonomian tahun depan.
Deputi Gubernur Senior BI Miranda S Goeltom kepada SP di Jakarta, Selasa (6/11) malam mengatakan, ketidakpastian ekonomi global yang disebabkan kenaikan harga minyak mentah dan dampak dari subprime mortgage (penjaminan perumahan) di Amerika Serikat (AS) berdampak pada kenaikan harga sejumlah komoditas, sehingga berpotensi memicu inflasi global. “Akibatnya permintaan menurun dan pertumbuhan ekonomi global melambat,” kata dia.
Dia mengutip data perkiraan pertumbuhan yang dikeluarkan IMF belum lama ini yang mengoreksi pertumbuhan ekonomi global dari 5,2 persen menjadi 4,8 persen. Sedangkan, pertumbuhan ekonomi AS direvisi dari 2,8 persen menjadi 1,9 persen.
Bagi Indonesia, papar Miranda, tahun ini belum terlalu berpengaruh, karena konsistensi bank sentral menjalankan kebijakan moneter yang sangat hati-hati. Kendati kenaikan komoditas berdampak positif terhadap surplus neraca pembayaran, tetapi kekhawatiran kenaikan biaya-biaya produksi di luar negeri berpotensi menyebabkan imported inflation tahun depan.
“Kita masih aman, karena kebijakan yang ketat, sehingga perbankan tidak terkena dampak ketidakpastian tersebut seperti subprime mortgage,” kata dia.
Sementara itu Ekonom Senior PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto mengatakan, kebijakan menahan BI Rate di level 8,25 persen sudah seusai dengan ekspektasi pelaku pasar dan para analis.
Selain itu, bertahannya tingkat acuan suku bunga merefleksikan sikap BI yang lebih hati-hati dalam memperhitungkan faktor internal dan eksternal.
“BI melihat ekspektasi inflasi hingga akhir tahun masih tinggi yakni 6,5 persen, karena harga minyak masih di atas US$ 90 per barel,” kata Ryan.
Sulitnya mengendalikan harga minyak ini, karena Tiongkok dan India mengkonsumsi minyak dunia dalam jumlah besar untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, tambah Ryan, faktor internal yang kurang kondusif sebagai dampak kenaikan harga minyak mentah dunia memaksa pemerintah menaikkan harga BBM untuk konsumsi industri dengan segala dampak negatif ikutannya. Dengan demikian terjadi kombinasi inflasi yang didorong biaya dan imported inflation.
Kendati demikian, dia mengimbau bank tidak putus asa menurunkan suku bunga kredit, asalkan dibarengi dengan efisiensi operasional secara nyata. Sayangnya, kenaikan harga minyak terutama BBM industri justru menekan beberapa debitor, sehingga berpotensi mengganggu perbankan menurunkan suku bunga kredit di akhir tahun. [B-15]
Sumber Suara Pembaruan
