Belajar Dari Gee Cosmos Indonesia

Pada nomor yang lalu, NOVA menulis tentang bangkrutnya perusahaan Gee Cosmos Indonesia, yang telah banyak memakan korban dari para anggota masyarakat. Rubrik Ulas Uang kali ini akan membahas tentang pelajaran apa yang bisa kita ambil dari peristiwa tersebut, agar hal itu tidak perlu terulang lagi kepada kita.

Tahun 2001 lalu, muncul sebuah perusahaan yang menawarkan konsep baru dalam perbaikan hidup melalui sebuah tawaran inves-tasi. Perusahaan tersebut bernama Gee Cosmos Indonesia. Bentuk tawaran investasinya boleh dikatakan baru dan bisa dikatakan sebagai suatu inovasi dalam berinvestasi.

Yang mereka tawarkan persisnya adalah kerja sama pembiayaan iklan, dimana Anda bisa membiayai iklan dari suatu produk, dan apabila penjualan produk itu mendapatkan keuntungan, Anda sebagai investor iklannya akan mendapatkan pembagian keuntungan yang besarnya tergantung dari barang apa yang diiklankan, dan berapa besar uang yang Anda investasikan. Anda sendirilah yang memilih produk apa yang ingin Anda iklankan dan media apa yang ingin digunakan untuk mempromosikan produk tersebut. Kemudian, Anda tinggal menyetorkan sejumlah dana yang besarnya tergantung dari media apa yang dipilih (media yang paling mahal tentunya media televisi).

MARI KITA PELAJARI

Kalau kita perhatikan, sebuah perusahaan yang mengeluarkan sebuah produk tentunya membutuhkan promosi agar produknya dapat dikenal oleh masyarakat. Dan promosi, tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jika dana perusahaan tidak dapat mencukupi untuk biaya promosi produknya, tentunya dia akan mencari dana dari luar perusahaannya. Caranya tentu bermacam-macam, bisa dengan meminjam uang ke bank, menerbitkan saham atau obligasi, atau menggunakan dana dari sebuah lembaga keuangan. Setiap cara mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Termasuk mencari dana dengan menawarkan tawaran investasi kepada masyarakat. Inilah yang dilakukan oleh Gee Cosmos. Sayangnya, ada beberapa kelemahan dalam Gee Cosmos Indonesia ini:

  1. Kriteria Untung Rugi yang tidak jelas.

    Gee Cosmos tidak memiliki kriteria yang transparan mengenai bagaimana suatu produk yang diiklankan (oleh investor) mengalami untung atau rugi. Dia juga tidak menjelaskan bagaimana hubungan antara promosi dengan laba yang dihasilkan. Maksudnya begini, kalau investasi untuk biaya promosi sebesar 1 milyar dan laba yang dihasilkan adalah 2 milyar, bagaimana menghitung partisipasi promosi dalam menghasilkan laba tersebut? Ini karena laba yang dihasilkan tidak hanya didasarkan oleh besarnya promosi yang dilakukan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor politik, kualitas produk, atau sistem distribusinya. Kalau untung saja belum ada kriterianya, bagaimana kalau rugi?

  2. Pengawasan & Pengetahuan.

    Dana yang dikumpulkan oleh Gee Cosmos Indonesia akan digunakan di Jepang, sebuah negara yang jauh dari Indonesia. Tentunya ini akan menyulitkan kita dalam mengawasi perkembangan dana yang diinvestasikan. Iya, dong, ongkos pulang pergi ke Jepang saja mungkin tidak sebanding dengan hasil yang kita terima. Atau kalau kita menggunakan Internet, rasanya kita perlu belajar bahasa dan tulisan Jepang.

    Selain masalah pengawasan, kita juga tidak tahu mengenai produk yang kita biayai iklannya, karena yang dikirimkan hanya brosurnya saja. Bagaimana dengan kualitasnya? Atau bagaimana dengan kapasitas perusahaan memproduksi produknya, karena percuma juga kalau kita gencar promosi, tetapi perusahaan tidak dapat memenuhi jumlah produk yang dibutuhkan oleh pasar.

PELAKUNYA YANG NAKAL

Saya turut prihatin dengan para korban penipuan Gee Cosmos Indonesia. Menurut saya, konsep investasi untuk membiayai iklan memang bagus, tetapi sayangnya pelakunya yang nakal. Inilah yang terjadi dengan Gee Cosmos.

Memang, terkadang suatu musibah dapat memberikan hikmah yang lebih baik. Mudah-mudahan kelak ada sebuah perusahaan yang benar-benar bertujuan baik untuk memberikan tawaran investasi dalam bentuk pembiayaan iklan. Dan ketika saat itu muncul, saya juga berharap pemerintah sudah menyiapkan segala perangkatnya agar masyarakat tidak lagi dirugikan seperti sekarang ini.

Sekali lagi saya turut prihatin, semoga musibah ini dapat memberikan hikmah kepada kita agar lebih cermat dalam memilih media investasi.

PELAJARAN YANG BISA DIAMBIL

Lalu, pelajaran apa yang bisa diambil dari Gee Cosmos? Ini dia:

  1. Pelajari terlebih dahulu setiap tawaran investasi yang datang kepada Anda. Jangan terlalu terpengaruh apakah tawaran investasi itu memang gencar diiklankan dimana-mana. Yang paling penting adalah apakah Anda menguasai ‘permainannya’. Jangan berinvestasi sebelum Anda memang betul-betul mengerti cara kerja dari investasi tersebut. Ingat, risiko investasi bisa ditekan bila Anda memang menguasai seluk-beluk investasinya.
  2. Bila Anda memang sudah menguasai cara kerjanya, perhatikan apakah Anda memang bisa setiap saat memantau investasi Anda. Investasi yang dilakukan jauh dari rumah seringkali sulit dipantau, sehingga risiko investasi Anda bisa jadi jauh lebih besar dibanding bila investasi tersebut berada pada jarak yang memang bisa Anda awasi. Pikir dulu dua tiga kali sebelum Anda melakukan investasi di tempat yang jaraknya jauh dari Anda dan sulit untuk dipantau.
  3. Perhatikan kredibilitas dan bonadifiditas dari perusahaan yang menawarkan investasi tersebut. Sebuah perusahaan yang memberikan tawaran investasi kepada masyarakat seharusnya memiliki kredibilitas dan bonafiditas yang baik. Termasuk dari segi tempat dan orang-orang yang berada di dalamnya, seperti siapa direksi dan pemegang sahamnya. Selain itu, juga perlu dilihat bagaimana laporan keuangannya. Dan jangan berinvestasi sebelum Anda betul-betul yakin dengan perusahaannya.

Safir Senduk
Perencana Keuangan
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 734/XIII

Leave a Reply