Bagaimana Memilih Reksa Dana?
PADA artikel sebelumnya, saya pernah membahas sedikit mengenai reksa dana (lihat artikel PR tanggal 11 April 2004, “Menjadi Miliarder dengan Reksa Dana”). Dari artikel tersebut, diharapkan, Anda mulai menyadari pentingnya berinvestasi dengan reksa dana. Tetapi, pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana memilihnya?
Prospektus
Sebaiknya, untuk mengawali proses investasi reksa dana, Anda membaca prospektus dan mengerti isinya. Setiap produk reksa dana yang dijual kepada publik mempunyai prospektus. Seperti halnya produk lain (misalnya komputer, kulkas, dll.), kita bisa mendapatkan katalog (buku / lembaran) yang menjelaskan tentang produk tersebut.
Prospektus seperti buku panduan, yang memberikan berbagai informasi penting tentang reksa dana tersebut. Berikut beberapa informasi penting yang terdapat dalam prospektus.
Pertama, tujuan investasi. Tujuan investasi yang biasa disebut dalam prospektus adalah menjaga nilai atau melindungi kapital (dana yang diinvestasikan), memperoleh pendapatan tetap, dan membuat pertumbuhan jangka panjang. Tujuan investasi ini berkaitan dengan jenis reksa dana. Reksa Dana Pasar Uang bertujuan untuk menjaga nilai kapital. Reksa Dana Pendapatan Tetap dan beberapa Reksa Dana Campuran bertujuan untuk memperoleh pendapatan tetap. Sedangkan Reksa Dana Saham maupun Reksa Dana Campuran (yang berorientasi pertumbuhan) bertujuan untuk membuat pertumbuhan jangka panjang.
Kedua, risiko investasi. Ada dua macam risiko yang bisa terjadi, yaitu risiko kerugian (turunnya nilai NAB), dan risiko likuiditas (lama atau tidak bisa dijualnya kembali unit penyertaan yang dimiliki investor).
Ketiga, hak investor. Ada beberapa hak yang dimiliki investor. Misalnya, mendapatkan bukti kepemilikan unit penyertaan. Menjual kembali sebagian atau seluruh unit penyertaan yang dimiliki. Memperoleh pembagian uang tunai. Memperoleh laporan atau informasi tentang reksa dana. Memperoleh hak pembagian harta dalam hal reksa dana dilikuidasi.
Keempat, biaya reksa dana. Ada tiga macam biaya dalam reksa dana. Yaitu, biaya yang menjadi beban investor, beban manajer investasi, dan beban reksa dana sendiri. Biaya yang menjadi beban investor dapat berupa biaya pembelian (selling fee), biaya penjualan kembali (redemption fee), dan biaya pengalihan (switching fee).
Memilih jenis Reksa Dana
Pada saat ini, tabungan dan deposito memberikan bunga yang rendah. Dengan berinvestasi di reksa dana, Anda akan mendapatkan hasil investasi (return) yang lebih tinggi dari tabungan, atau deposito. Seberapa besar hasil investasi yang akan Anda peroleh, tergantung dari reksa dana yang Anda pilih. Tentu saja, juga tergantung dari seberapa besar risiko yang berani Anda ambil. Menurut besarnya potensi tingginya hasil investasi, dan berarti juga besarnya risiko yang bisa terjadi, urutannya adalah seperti berikut (dari yang tertinggi ke yang terendah). Reksa Dana Saham, Reksa Dana Campuran, Reksa Dana Pendapatan Tetap, Reksa Dana Pasar Uang.
Reksa Dana Saham bisa memberikan hasil investasi yang tertinggi. Risikonya, Reksa Dana Saham yang Anda beli, memiliki hasil investasi yang bisa negatif (menderita kerugian).
Dalam memilih reksa dana, faktor jangka waktu investasi (time horizon) juga sangat menentukan. Anda perlu meneliti, apakah dana yang akan Anda investasikan merupakan dana yang bersifat jangka pendek, menengah, atau panjang. Misalnya, jika dana tersebut merupakan dana lebih, yang tidak akan terpakai dalam waktu lama, berarti dana Anda bersifat jangka panjang. Sebaliknya, jika dana tersebut mempunyai kemungkinan akan digunakan dalam waktu dekat, berarti dana Anda bersifat jangka pendek.
Produk Reksa Dana Pasar Uang merupakan produk yang cocok untuk dana yang bersifat jangka pendek. Dananya dilindungi, sehingga nilainya (NAB) stabil. Produk ini mirip deposito atau tabungan. Anda bisa menarik dana tersebut kapan saja Anda perlukan, tanpa kena denda (penalti). Tetapi, jika Anda menempatkan dana di reksa dana ini terlalu lama, Anda akan kehilangan peluang hasil investasi yang lebih tinggi. Karena, reksa dana ini menghasilkan tingkat hasil investasi yang paling rendah.
Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Reksa Dana Campuran (yang bersifat lebih condong ke pendapatan tetap), sesuai untuk dana yang bersifat jangka menengah. Reksa Dana jenis ini mempunyai NAB yang relatif stabil, sehingga tepat untuk jangka menengah. Jika Anda membutuhkan dana tersebut pada jangka waktu menengah (di atas 1 tahun), kemungkinan besar Anda akan mendapatkan keuntungan (mendapatkan hasil investasi yang cukup tinggi). Jika Anda berinvestasi di reksa dana ini untuk jangka waktu pendek, Anda punya risiko kerugian. Artinya, pada saat Anda tarik, ada kemungkinan reksa dana tersebut mempunyai nilai (NAB) yang lebih rendah dari nilai awalnya. Sebaliknya, jika Anda berinvestasi di reksa dana jenis ini dalam waktu yang lama, hasil investasi Anda tidak maksimal. Karena sebenarnya, Anda bisa menaruhnya di produk investasi yang bersifat jangka panjang. Sehingga, Anda akan mempunyai potensi hasil investasi lebih tinggi.
Yang terakhir, adalah Reksa Dana Saham atau Campuran (yang lebih bersifat pertumbuhan). Jenis ini untuk dana yang bersifat jangka panjang. Jika dana jangka pendek yang Anda gunakan untuk investasi di reksa dana saham, Anda menghadapi risiko kerugian yang bisa bernilai besar.
Dalam pemilihan jenis reksa dana ini, sebaiknya, kita juga harus mengingat keseluruhan portofolio investasi yang kita punyai. Secara keseluruhan, portofolio yang kita punyai harus sesuai dengan toleransi risiko kita. Dalam hal ini, penting untuk melihat alokasi aset kita. Berapa besar persentase untuk investasi yang berisiko rendah, dan berapa persen yang seimbang. Dan juga, berapa persen aset kita yang bersifat berkembang atau bertumbuh (berisiko tinggi). Misalnya, jika Anda mempunyai toleransi risiko yang rendah, alokasikan 30% dana Anda ke dalam tabungan, deposito dan Reksa Dana Pasar Uang (cash). Dan 45% ke dalam Reksa Dana Pendapatan Tetap. Serta 25% ke dalam Reksa Dana Campuran, Reksa Dana Saham dan/atau Saham Blue Chips.
Memilih Manajer Investasi
Dalam memilih produk reksa dana, biasanya kita akan membandingkan hasil investasi yang sudah terjadi di masa lalu. Misalnya, kita akan tergiur oleh Reksa Dana Saham A yang menghasilkan pengembalian setahun ini sebesar 80%, daripada Reksa Dana Saham B yang hanya menghasilkan pengembalian sebesar 30%. Yang perlu diingat adalah, hasil ini hanya dalam periode satu tahun yang lalu. Kita perlu pembuktian yang lebih panjang. Hasil lima atau sepuluh tahun ke belakang. Makin lama makin baik. Walaupun jangka waktu penelitian unjuk kerja (performance) ini sudah panjang, Anda juga harus ingat, bahwa hasil masa lalu tidak menjamin hasil masa depan. Tidak ada jaminan. Tetapi, minimal kita akan lebih yakin, jika dalam jangka waktu yang lama suatu reksa dana menunjukkan unjuk kerja yang stabil.
Jika begitu, faktor apa yang bisa memberikan sedikit jaminan bahwa reksa dana yang kita pilih akan memberikan hasil seperti yang kita harapkan? Jawabnya, adalah dalam pemilihan Manajer Investasi. Kita mesti memilih Manajer Investasi yang mempunyai reputasi yang baik. Reputasi tersebut terbentuk karena beberapa kualitas yang dipunyai oleh Manajer Investasi tersebut, seperti dibahas di bawah ini.
Pertama, integritas. Seperti dalam menyimpan uang atau deposito, Anda akan meyerahkan uang Anda kepada manajer investasi untuk dikelola. Tentunya, Anda ingin manajer investasi tersebut mengelola uang Anda dengan benar. Juga jujur dan terbuka melaporkan perkembangan investasi uang Anda. Kita tidak mau ada permainan ataupun perhitungan-perhitungan nilai aset (NAB) yang akan merugikan kita.
Kedua, pengalaman (track record). Berapa lama perusahaan tersebut telah menjalankan bisnis reksa dana di Indonesia atau di luar Indonesia? Semakin lama semakin baik. Tentunya juga dengan unjuk kerja yang baik dalam waktu yang lama. Hal ini memperlihatkan bahwa perusahaan tersebut mempunyai manajemen dan sistem yang baik. Seperti Anda ketahui, staf suatu perusahaan bisa berganti-ganti, termasuk staf bagian investasi. Jadi, jika dana Anda diinvestasikan dalam suatu reksa dana dalam kurun waktu yang agak panjang, kemungkinan dikelola oleh orang yang berbeda-beda. Tetapi, jika manajemen dan sistemnya baik, perusahaan tersebut tetap bisa mempertahankan unjuk kerjanya.
Ketiga, kekuatan finansial. Jika perusahaan tersebut memunyai kondisi finansial yang kuat dan sehat, Anda akan yakin terhadap kelangsungan reksa dana tersebut. Apalagi jika Anda memunyai tujuan investasi jangka panjang. Anda tidak mau ada masalah di tengah perjalanan investasi Anda. Maka, Anda akan melihat dari sisi besarnya perusahaan. Apakah perusahaan tersebut merupakan bagian dari suatu grup perusahaan yang kuat dan sehat. Jangan sampai, jika ada masalah di grup perusahaan tersebut, bisnis reksa dananya juga ikut menjadi kacau.
Keempat, besarnya aset yang dikelola. Jika aset yang dikelola besar dan beragam, kita dapat menyimpulkan secara kasar, bahwa kualitas dari si manajer investasi ini adalah bagus. Juga, dengan besarnya aset, manajer investasi dapat melakukan operasi dengan lebih efisien. Mereka bisa mendapatkan biaya-biaya transaksi investasi yang rendah, karena mempunyai posisi tawar yang tinggi. Dengan demikian, hasil investasi akan semakin tinggi.
Beberapa hal lain yang harus diperhatikan
Pertama, strategi market timing. Dengan strategi ini, kita mengambil keuntungan dari perubahan harga di pasar. Misalnya, bila harga sedang menurun (rendah), maka kita akan membelinya. Dan ketika harga naik (tinggi) kita menjualnya. Buy low sell high. Dengan demikian, kita akan mendapatkan keuntungan maksimal dari investasi yang dilakukan. Masalahnya, apakah kita bisa selalu tepat melakukan prediksi atau perkiraan perubahan harga di pasar. Jika tidak, bukan keuntungan yang kita dapatkan, melainkan, kerugian. Dalam kaitan ini, saya menganjurkan agar Anda membelinya dengan pola dollar cost averaging. Secara berkala, misalkan setiap bulan, Anda melakukan pembelian terhadap reksa dana yang Anda pilih.
Kedua, diversifikasi. Dengan memiliki beberapa reksa dana dari Manajer Investasi yang berbeda, kita merasa sudah melakukan diversifikasi. Jika reksa dana yang kita beli memiliki kebijakan investasi yang serupa, maka kita tidak melakukan diversifikasi secara efektif. Misalnya, kita memiliki beberapa reksa dana saham dari manajer investasi yang berbeda. Jika reksa dana saham yang kita miliki tersebut memiliki kebijakan investasi yang sama, reksa dana kita tersebut akan memiliki saham-saham yang serupa. Jika pasar sedang tidak bersahabat, reksa dana kita akan mengalami akibat yang serupa. Berbeda misalnya, reksa dana yang kita miliki mempunyai kebijakan investasi yang berbeda-beda. Apalagi, jika jenis reksa dana yang kita miliki juga berbeda. Misalnya, sebagian adalah Reksa Dana Pendapatan Tetap, Pasar Uang, ataupun Campuran
Ketiga, pengawasan. Walaupun investasi kita bersifat jangka panjang, kita mesti memonitor kondisi reksa dana kita secara berkala. Bukan setiap hari melihat surat kabar untuk mencari tahu NAB-nya, tetapi misalnya setiap bulan, atau minimal setiap 3 bulan. Hal ini disebabkan oleh industri pasar modal dan pasar uang yang selalu mengalami perubahan. Kita harus mewaspadai perubahan itu. Dan mengambil keputusan secara tepat.
Selamat berinvestasi di reksa dana!
Dikutip dari suplemen Pikiran Rakyat Edisi Minggu 23 Mei 2004
