Alternatif Strategi: Memilih Saham Pemenang

Saya ingin sekali berinvestasi di pasar modal, tapi bagaimana saya memilih investasi saham yang tepat? Atau apakah informasi yang kita dapat dari surat kabar atau majalah mengenai analisa yang dilakukan seorang analis sudah cukup untuk dipakai sebagai satu-satunya dasar menentukan saham yang akan dibeli? Kedua pertanyaan ini sering kali kita dengar dalam perbincangan di kalangan perkantoran.

Memang tidak mudah untuk memilih satu dari beragam saham yang tersedia di pasar modal yang berpotensi memberikan keuntungan yang besar bagi Anda. Terkadang pengambilan keputusan hanyalah berdasarkan informasi praktis yang Anda dapat dari surat kabar atau majalah. Kami merasa bahwa hal ini kurang memadai.

Hanya dengan informasi yang terbatas akan sangat riskan bagi Anda untuk bertransaksi di bursa saham. Sehingga terkadang hasil yang diperoleh melalui transaksi saham tidak memberikan keuntungan yang maksimal.

Informasi yang tepat dan lengkap memang sangat dibutuhkan dalam menganalisa saham sebuah perusahaan. Tapi ingat, informasinya tidaklah cukup. Sangat penting bagi Anda, para investor individu untuk mengenal beberapa strategi yang umum dan populer dilakukan oleh para analis profesional.

Tentunya analisa ini bisa Anda lakukan dengan informasi yang dapat Anda peroleh melalui perusahaan itu sendiri atau dari surat kabar. Atau bila Anda menggunakan perusahaan sekuritas, Anda juga dapat memperoleh hasil reports analisa terkini yang dilakukan oleh para analis terhadap saham-saham perusahaan yang Anda inginkan.

Sebelum kita masuk lebih dalam dengan berbagai strategi yang dapat Anda lakukan, dua rasio berikut harus Anda pahami dengan baik, baik dari cara perhitungannya sampai makna dibalik angka rasio yang diperoleh.

Dividen Yield

Andi membeli saham PT. XYZ seharga Rp 4.000. PT. XYZ sepakat untuk memberikan dividen untuk tiap saham yang dimiliki sebesar Rp 250. Dengan demikian dividen yield-nya adalah 6,25 persen. Formula untuk menghitung dividen yield cukup sederhana—dividen persaham dibagi dengan harga saham di pasar.

Makna apa yang dapat diambil dari angka tersebut? Jelas bahwa angka ini memberikan indikator hasil investasi yang bisa diperoleh dari saham tersebut untuk investor. Dengan memperhatikan nilai atau angka dividen yield, Anda sebagai investor individu dapat melihat dan mencari saham perusahaan yang sehat dan memiliki potensi pertumbuhan laba yang bagus.

Bila Anda melihat dividen yield sebuah perusahaan maka Anda harus membandingkan dengan data rasio dividen yield yang lalu. Atau Anda harus menganalisa data historis dari rasio dividen yield perusahaan tersebut. Bila nilai rasio bertumbuh, dapat diartikan bahwa perusahan juga mengalami pertumbuhan. Mengapa? Karena untuk membagikan dividen, perusahaan biasanya harus mendapatkan profit atau keuntungan. Walau perusahaan tetap bisa membayarkan dividen walau merugi melalui dana cadangan yang dimiliki. Atau Anda dapat melakukan analisa antara saham satu perusahaan dengan perusahaan lain berdasarkan dividen yield-nya.

”Price To Earning Ratio”

Dalam menganalisa satu perusaahan dengan perusahaan lain, ada ukuran yang tidak dipengaruhi oleh keputusan dividen, yaitu dengan Price to earning ratio (P/E ratio) yang selanjutnya hanya akan digunakan simbul P/E rasio. Pada hakikatnya, P/E rasio adalah cara mengukur seberapa besar investor menilai laba yang dihasilkan perusahaan.

Formula perhitungan rasio ini dilakukan dengan membagi harga saham di bursa dengan laba bersih per saham. Jika harga saham PT. XYZ adalah Rp.4000 dan laba bersih per saham adalah Rp 350, P/E rasio yang didapat adalah 11,4 (Rp 4000 / Rp 350).

Mengapa P/E rasio menjadi penting? Logikanya, dengan jumlah laba perusahaan yang dihasilkan akan menentukan jumlah dividen yang bisa dibayarkan kepada pemegang saham. Jika labanya naik, ada potensi bahwa dividen juga akan menaik. Dengan demikian memberikan indikator kepada investor untuk mengambil keputusan berdasarkan angka rasio ini.

Secara umum, saham dengan P/E rasio rendah sering dikatakan sebagai saham murah atau undervalue. Sehingga memberikan daya tarik tersediri bagi investor untuk membelinya. Tapi satu hal yang sangat penting dalam analisa ini adalah jangan menggunakan P/E rasio secara insindental, tetapi pelajari atau analisa berdasarkan tren perubahan angka historisnya. Sebab, bisa jadi penurunan laba bersih hanya bersifat sementara, setelah beberapa waktu akan kembali normal. Evaluasi data secara historis juga mengeleminasi perubahan harga saham secara mendadak di luar dukungan kinerja keuangan perusahaan.

Strategi pemilihan saham sebuah perusahaan memerlukan ketekunan dan kesabaran. Dengan begitu Anda berpotensi untuk mendapatkan keuntungan yang cukup dalam berjalannya waktu. Dalam hal ini kami mencoba memberikan tiga strategi yang sering dipergunakan dan cukup populer di kalangan investor.

Teori Pertumbuhan

Strategi analisa dengan menggunakan “growth theory”, sudah sejak lama menjadi strategi yang popular. Teori ini mengembangkan analisa terhadap sebuah perusahaan dalam sebuah industri dengan data yang menunjukkan pertumbuhan atau growth dari satu siklus bisnis ke siklus selanjutnya. Dan angka pertumbuhan dari perusahaan melebihi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Secara implisit, teori ini menyatakan keinginan investor untuk mendapatkan keuntungan dari segi pertumbuhan kapital atau capital growth dari pada pendapatan dari dividen.

Dalam hal ini, bila investor dapat memilih atau menemukan sebuah perusahaan yang berada dalam tingkat pengembangan atau pertumbuhan dan perusahaan tersebut menjadi pemimpin di dalam industri, investor tersebut mungkin akan mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Tapi, probilitas mendapatkan perusahaan yang demikian cukup sulit.

Atau bisa juga, pemahaman teori ini adalah dengan memilih sebuah perusahaan terbaik atau terkuat, yang selama ini terpuruk karena keadaan industri yang kurang mendukung, dapat ke luar dari masa-masa kritis tersebut.

Tidak ada jawaban yang pasti dalam teori ini. Bila Anda memilih saham perusahaan dengan analisa yang baik, dalam jangka panjang keputusan ini dapat memberikan tingkat keuntungan yang besar. Tapi terkadang kendala yang sering terjadi adalah karena kurang siapnya investor untuk mengatasi penurunan yang drastis dari harga saham tersebut, sehingga investor tersebut menjualnya dengan merugi. Hal ini mungkin juga karena kurang sabarnya investor dalam menghadapi permasalahan seperti itu. Tentu saja, penurunan yang terjadi mungkin saja tidak hanya untuk sementara waktu.

Akan tetapi, bila investor menganalisa fakta-fakta atau informasi yang didapat dengan hati-hati, menggunakan akal sehat, menginvestasikannya untuk periode jangka panjang dan memiliki kesabaran, banyak yang mempercayai bahwa growth teory memberikan tingkat pengembalian yang cukup dalam jangka panjang.

”Value Investing”

Teori value investing secara umum adalah mencari atau menganalisa saham-saham perusahaan yang memiliki kualitas baik dengan balance sheet yang tangguh dan saham-saham tersebut dihargai di bawah harga se-mestinya atau undervalued oleh bursa saham. Undervaluation yang terjadi bisa karena menurunnya perusahaan atau industri sesaat.

Para investor yang melakukan analisa dengan teori ini mencari saham-saham perusahaan kuat yang saat ini kurang diminati para investor di bursa saham. teori ini membutuhkan analisa perusahaan yang dalam dan kesabaran menjadi modal yang dibutuhkan.

Banyak investor yang mempercayai teori ini mengatakan bahwa teori ini memberikan tingkat risiko yang relatif lebih rendah karena saham-saham yang masuk dalam pertimbangan adalah saham-saham dengan harga jual yang rendah dibandingkan dengan saham lain.

Sebagai indikator awal yang dapat Anda lakukan adalah dengan melihat P/E rasio yang rendah dari sebuah perusahaan—yaitu perusaahan yang harga sahamnya lebih murah dibandingkan dengan keuntungan perusahaan saat ini. Menentukan P/E rasio tinggi atau rendah memerlukan data atau informasi historis dari perusahaan tersebut.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir angka P/E rasio sebuah perusaahan terrendah adalah 18 dan tertinggi adalah 46. Saat ini P/E rasio perusahaan tersebut adalah 21, hal ini memberikan indikasi bahwa saham perusahaan tersebut baik untuk dibeli. Sebaliknya bila P/E rasionya 42 dan dibandingkan dengan P/E rasio historis nilainya cukup tinggi maka ini menandakan bahwa saham perusaaah tersebut sudah cukup mahal. Dus, bukan saham yang baik untuk dibeli.

Dividen yield juga menjadi rasio yang diperlukan oleh para investor yang memakai teori ini. Dividen merupakan sebagian keuntungan yang bisa diperoleh oleh investor yang bermain di bursa saham. semakin besar dividen yield yang ditawarkan terkadang memberikan potensi pengembalian yang tinggi pula.

Dividen Growth

Tidak seperti investor value investing, investor dengan teori dividen growth tidak fokus pada dividen yield. Akan tetapi, mereka lebih melihat perusahaan yang memiliki sejarah meningkatkan dividennya untuk jangka waktu yang panjang. Bila perusahaan selalu menaikkan dividen yang dibayarkan kepada investor selama 15 tahun perusahaan itu beroperasi, investor dengan teori dividen growth akan membelinya.

Mengapa perusahaan tersebut menarik untuk dibeli sahamnya? Kenaikan dividen yang dibayarkan kepada investor menandakan perusahaan tersebut adalah perusahaan yang sukses karena dua alasan.

Pertama, sebuah perusahaan tidak akan sanggup untuk menaikkan dividennya setiap tahun bila perusahaan itu tidak mendapatkan keuntungan yang lebih besar setiap tahun. Kedua, bila perusahaan dapat meningkatkan dividen setiap tahun, informasi ini memberikan indikasi bahwa perusahaan tersebut beroperasi dengan baik dan selama ini selalu dapat bertumbuh dalam kondisi ekonomi yang baik maupun buruk. Akibatnya, sangat dimungkinkan bahwa perusahaan itu akan tetap memberikan peningkatan terhadap nilai dividennya untuk masa depan.

Masih banyak lagi strategi yang ada, menurut hemat kami ketiga strategi ini merupakan yang umum dan termasuk yang populer di kalangan analis. Ada satu strategi yang ingin kami uraikan secara singkat yaitu teori yang melihat pertumbuhan yang Anda ketahui (growth that you know). Teori ini dipopulerkan oleh Peter Lynch, seorang money manager yang memimpin Fidelity Magellan Fund. Ide di belakang teori ini adalah berinvestasi di dalam sebuah perusahaan yang memproduksi produk-produk atau jasa yang Anda ketahui dengan mendalam dan Anda mempercayainya akan bertumbuh dengan baik di masa depan.

Demikianlah beberapa strategi serta dasar rasio yang dibutuhkan untuk menentukan saham-saham mana yang sesuai dengan yang Anda inginkan. Semoga dengan tambahan pengetahuan ini dapat menambah wacana Anda dalam menganalisa atau memilih saham-saham yang berpotensi memberikan keuntungan yang besar. Selamat mencoba. n

Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.

Leave a Reply