Andi dan Anti bertemu waktu sama-sama kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Jakarta. Setelah lulus, mereka mengambil jalan yang berbeda, Andi meneruskan kuliahnya di luar negeri dan Anti langsung bekerja. Dua tahun yang lalu, mereka bertemu kembali di sebuah pesta teman Anti. Andi diajak oleh temannya. Setelah itu mereka mulai berhubungan kembali.
Mereka membicarakan banyak hal, dari hal yang kecil sampai yang bersifat prinsipil. Dari pembicaraan tersebut, mereka meresakan adanya persamaan dalam tujuan hidup, sampai keinginan untuk membina keluarga dengan hanya dua anak. Tidak beberapa lama, mereka mulai menjalin hubungan lebih dekat. Pada bulan Januari mereka bertunangan. Pada bulan September mereka menikah.
Anti termasuk orang yang percaya bahwa uang tunai atau cash lebih baik. Sedangkan Andi merasa bahwa kartu kredit itu penting untuk berbagai transaksi dan kebutuhan darurat. Andi mempercayai bahwa dalam pernikahan, “apa yang saya miliki adalah milik pasangan saya jugaâ€. Sehingga Andi menambahkan kartu kredit atas namanya untuk Anti.
Waktu pun berjalan, dan mereka memikirkan untuk memperbesar rumah yang sekarang mereka tinggali karena mereka berencana untuk memiliki anak. Merenovasi rumah cukup besar biayanya. Banyak kebutuhan perbaikan yang diperlukan mereka beli dengan kartu kredit. dalam waktu pendek, tagihan kartu kredi mereka meningkat cukup tajam. Tentunya, masing-masing dari mereka membayar dari tabungan mereka.
Namun, dalam suatu pertemuan penting dengan klien, Andi selalu membawa kartu kredit sebagai alat pembayaran. Setelah selesai dan ingin membayar dengan kartu kredit ternyata kartu kreditnya ditolak. Dan Andi pun mencoba kartu kredit kedua, ternyata kembali ditolak. Andi bingung, sepertinya dia selalu membayar tagihan walau memang tidak pernah secara full. Andi mencoba untuk menghubungi perusahaan penerbit kartu tersebut, ternyata, kartu kredit Andi sudah over limit.
(more…)